Sudah Tiga Hari Desa Kami Jadi Telaga
Kotawaringin Timur
Sabtu, 24 Juli 2010 00:04
SUDAH tiga hari Desa Sudan, Kecamatan Cempaga Hulu, Kotawaringin Timur (Kotim), berubah menjadi telaga. Kemarin sore, rumah penduduk kini tinggal terlihat atapnya saja setelah ketinggian air sudah mencapai tiga meter. Sementara hujan masih terus turun dan belum diketahui kapan berhentinya.
"Beginilah nasib kami. Kejadian seperti ini sudah pernah terjadi pada  tahun 1975. Beberapa tahun terakhir apabila banjir hanya sebatas jalan desa, misalnya semata kaki. Tapi tahun ini, banjirnya luar biasa, sampai melumpuhkan aktivitas kami sebab merendam rumah hingga atap. Sudah tiga hari terakhir yang paling parah dan bantuan dari Pemkab Kotim belum kunjung datang, akibatnya banyak warga yang kekurangan bahan makanan," jelas Kasmirirasing, Kepala Desa Sudan, kemarin, saat bersama sejumlah wartawan meninjau lokasi banjir.
Berdasarkan data terakhir, 240 rumah di desa itu sudah terendam semua. Jalan desa sepanjang satu Kilometer juga sudah putus. Desa itu kini sudah sulit ditembus dari luar.
Dengan menggunakan perahu kelotok tempel (ketinting), setiap hari ia mengunjungi warganya yang memilih tetap bertahan di rumah masing-masing. Meski tinggi banjir sudah hampir mencapai atap rumah, sebagian besar warganya menolak untuk mengungsi karena mengkhawatirkan keselamatan harta bendanya. Mereka memilih untuk tetap berdiam di rumahnya masing-masing dengan menggunakan loteng sebagai tempat beristirahat.
Beberapa warga bahkan menggunakan kelotok yang mereka ikat di depan rumah mereka sebagai tempat tidur. Hanya sedikit warga yang bersedia mengungsi dengan menempati sebuah gedung SD yang berada di atas bukit.
Banjir juga merendam kantor desa, aula desa, puskesmas pembantu, dan fasilitas umum lainnya. Aktivitas di desa pun hanya bisa dilakukan menggunakan kelotok. "Namanya juga bencana jadi tidak ada yang bisa disalahkan. Kami berharap bantuan segera datang. Kabarnya nanti sore (kemarin) akan ada kiriman seperti beras dan lainnya. Padahal bahan makanan bagi kami sangat berarti sebab semua warga kami tidak bisa bekerja, mata pencaharian mereka adalah petani perkebunan karet sedangkan saat banjir tidak mungkin menyadap karet," jelasnya.
Sementara di Desa Rubung Buyung, Kecamatan Cempaga, yang merupakan kecamatan tetangga Cempaga Hulu, juga terendam banjir. Sedikitnya 100 rumah terendam, namun air ‘hanya’ setinggi leher orang dewasa.
Warga setempat juga mengharapkan bantuan bahan makanan dari pemkab Kotim yang tidak kunjung datang. Mereka mengungsi hingga ke jalan raya, membuat loteng, serta cara lainnya guna menghindari banjir tersebut.
Di Desa Patai terjadi hal serupa. Bahkan Gedung SDN 1 dan 2 di desa itu terpaksa diliburkan. Sedikitnya 400 siswa terpaksa tidak bisa bersekolah.
"Siswa terpaksa kami liburkan dalam dua hari terkhir, sebab tidak memungkinkan melakukan aktivitas belajar mengajar," jelas Kepala Sekolah SDN 2 Patai, Supian.
Kepala Desa Patai Sukardi memaparkan, puskesmas pembatu juga tidak bisa beroperasi. Sebagian besar warga masih was-was karena banjir terus meninggi sehingga bersiap-siap untuk mengungsi.
(Dhonny Saputro/P-2)
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
Please input the anti-spam code that you can read in the image.
 

Kapuas

Mengintip Pembuatan Amplang

AMPLANG. Masyarakat Kalimantan pasti mengenal camilan sejenis kerupuk ini karena amplang merupakan salah satu makanan khas di Kalimantan.

Penasaran nggak sih Kalian dengan cara pembuatan amplang? Nah, kali ini teman-teman kita dari Sekolah Dasar Negeri (SDN) 3 Raja Pangkalan Bun, yakni Maulidia Arianti Santoso, Rifka Valentina, dan Anugrah Agung Saputra mengunjungi industri rumah tangga amplang milik Ibu Utin Munawati yang ada di........

 
 

kalendar berita

< Juli 2010 >
Se Se Ra Ka Ju Sa Mi
      1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 25
26 27 28 29 30 31  
Berita Rakyat Kalimantan