|
Palangkaraya
|
|
Kamis, 22 Juli 2010 00:33 |
PASCABANJIR yang menyebabkan ruas Jalan Trans Kalimantan yang menghubungkan Sampit-Palangkaraya terputus, Badan Metreologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Palangkaraya kembali memprediksi banjir di wilayah Kasongan, Kabupaten Katingan, dan sekitarnya. Banjir di wilayah tersebut diperkirakan akan terjadi sebelum pergantian musim kemarau pada Agustus
mendatang. Musibah banjir disebabkan melubernya air Sungai Katingan karena curah hujan yang jauh di atas normal. BMKG Palangkaraya mencatat intensitas hujan di wilayah Katingan selama Juli mencapai 283 milimeter. Padahal, pada kondisi normal intensitas curah hujan hanya berkisar 88-119 milimeter. “Memang selama Juli intensitas curah hujan tinggi, khususnya di wilayah dataran rendah seperti Kasongan dan sekitarnya berpeluang banjir,” ungkap Kepala BMKG Palangkaraya Imam Mashudi, kemarin. Namun, banjir yang diperkirakan terjadi tidak akan berlangsung lama. BMKG juga memperkirakan musim kemarau hanya berlangsung satu bulan selama Agustus-September dengan status musim kemarau basah.Dengan kata lain, Kalteng hanya mengalami beberapa hari panas. Menurut Imam, kondisi seperti ini merupakan siklus tahunan di Kalteng. Tingginya curah hujan yang sekarang terjadi dipengaruhi dua hal. Pertama, adanya penumpukan uap air di wilayah Indonesia, khususnya di Kalteng. Faktor lainnya adalah tekanan angin dari laut Filipina yang membelok ke wilayah Kalteng, sehingga memicu hujan di wilayah provinsi ini. “Adanya tekanan rendah di lintang utara laut Filipina mengakibatkan tekanan angin di atas Kalteng memicu terbentuknya awan,” imbuh Imam. Dia menambahkan, kendati kerap diguyur hujan dengan intensitas tinggi, wilayah dataran tinggi seperti daerah aliran sungai (DAS) Barito relatif aman dari banjir.
Tetap waspada Meski demikian, masyarakat diminta tetap waspada ancaman banjir yang bisa terjadi setiap saat. Potensi hujan lebat disertai petir dipastikan tetap ada. Bahkan, berlangsung hingga akhir Juli. Hujan lebat juga berpotensi menimbulkan gelombang tinggi di Laut Jawa dengan tinggi gelombang diperkirakan mencapai tiga meter. Tingginya gelombang menimbulkan kerawanan bagi nelayan. Demi keamanan, BMKG Palangkaraya mengimbau kapal kecil tidak berlayar selama Juli. (RI/B-5)
|