|
HARI masih pagi, Miyah, 43, telah sibuk di dapur rumahnya yang hanya berdinding kayu. Sambil sedikit terpejam karena melawan pedihnya kepulan asap, ia tetap semangat menyiapkan menu sarapan untuk suami, kedua anak, dan satu orang menantunya. Kepulan asap itu berasal dari tungku yang digunakan Miyah. Maklum pagi itu dia memasak menggunakan kayu bakar. Sejak maraknya pemberitaan di media massa cetak maupun elektronik mengenai ledakan tabung gas elpiji, Miyah mulai beralih menggunakan kayu bakar. Dia mengaku, ketakutan menggunakan elpiji. Apalagi, elpiji yang ia miliki didapat dari pemberian orang. Oleh karena itu, ia lebih memilih mengumpulkan ranting di sekitar kebunnya untuk dijadikan kayu bakar. Baginya, kengeriaan pemberitaan di televisi menjadi alasan utama dirinya beralih dari elpiji ke kayu bakar. Kayu bakar dipilih karena minyak tanah susah didapat dan harganya terkadang malah melebihi bensin dan solar. “Saya tidak keberatan mencari kayu tiap sore di sekitar kebun. Kan di sana banyak tunggak (akar pohon yang sudah mati) yang lumayan besar. Sekali congkel bisa untuk beberapa hari,” ungkapnya. Meski sudah banyak ibu rumah tangga yang beralih menggunakan kayu bakar, banyak pula yang masih memilih menggunakan elpiji. Terbukti angka penjualan elpiji di wilayah Sukamara tidak mengalami penurunan. Wilson, pemilik usaha penjualan elpiji di Jalan Tjilik Riwut Sukamara mengatakan, sampai saat ini, dirinya rata-rata menjual 50 tabung elpiji per bulan. Sama seperti hari-hari sebelumnya. (Rowi Krisna/B-3)
|