BORNEONEWS, Palangka Raya - Kinerja ekspor Kalimantan Tengah pada awal 2026 menunjukkan tren positif, dengan komoditas minyak kelapa sawit menjadi salah satu penopang utama. Peningkatan ini tidak hanya terlihat dari nilai ekspor, tetapi juga beriringan dengan dinamika harga di tingkat petani yang dipengaruhi kondisi global.

Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, mengungkapkan bahwa selama Januari-Februari 2026, kelompok lemak dan minyak hewani/nabati mencatat lonjakan signifikan.

"Nilai ekspor pada kelompok ini meningkat sebesar US$41,68 juta atau naik 46,25 persen dibanding periode sebelumnya," kata Agnes pada Senin, 27 April 2026.

Secara tahunan, lanjutnya, peningkatan juga terlihat cukup tajam. Jika dibandingkan Februari 2025, kelompok komoditas tersebut mengalami kenaikan sebesar US$53,75 juta atau melonjak 121,85 persen. Sementara itu, secara bulanan (month to month), nilai ekspor Kalimantan Tengah pada Februari 2026 naik US$43,88 juta atau sebesar 17,07 persen, dengan kontribusi terbesar tetap berasal dari kelompok lemak dan minyak hewani/nabati yang meningkat hingga US$63,92 juta atau 188,33 persen.

"Dari sisi struktur ekspor, aktivitas melalui pelabuhan di Kalimantan Tengah masih didominasi hasil industri. Nilainya mencapai US$150,61 juta atau setara 94,18 persen dari total ekspor," tambah Agnes lagi.

Adapun sektor pertanian menyumbang 1,96 persen dengan nilai US$3,13 juta, yang sebagian besar berasal dari komoditas bahan nabati untuk anyam-anyaman atau hasil hutan bukan kayu.

Di sisi lain, dinamika harga komoditas sawit di tingkat lokal turut dipengaruhi situasi geopolitik global. Sekretaris Eksekutif Gapki Cabang Kalteng, Rawing Rambang, menyebut konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel berdampak pada kenaikan berbagai komponen biaya, termasuk transportasi dan kebutuhan pokok.

"Kondisi tersebut turut mendorong kenaikan harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit di Kalimantan Tengah," tutur Rawing Rambang.

Berdasarkan data Dinas Perkebunan Kalteng, katanya, harga TBS pada akhir Februari 2026 tercatat sebesar Rp3.459,07 per kilogram dan meningkat menjadi Rp3.897,96 per kilogram pada awal April 2026, atau naik sekitar 12,68 persen.

Rawing menilai, dalam jangka pendek kenaikan ini memberikan keuntungan bagi petani. Namun di sisi lain, kondisi tersebut berpotensi menekan daya beli masyarakat karena kenaikan harga tidak hanya terjadi pada komoditas sawit, tetapi juga pada kebutuhan lain, termasuk pupuk dan obat-obatan pertanian yang sebagian masih bergantung pada impor.

"Kita berharap ketegangan global dapat segera mereda agar stabilitas harga kembali terjaga. Jika situasi kembali normal, diharapkan harga komoditas bisa kembali seperti sebelum konflik akhir Februari 2026,” ujar Dosen Ilmu Pertanian, Universitas Kristen Palangka Raya ini. (TESTI PRISCILLA/j)