BORNEONEWS, Palangka Raya - Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kalimantan Tengah (Kalteng) melaporkan realisasi penerimaan pajak di provinsi tersebut mencapai Rp7,96 triliun hingga 30 September 2026. Capaian tersebut setara dengan 74,57 persen dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.

Kepala Kanwil DJPb Kalteng, Herry Hernawan , Rabu 28 Oktober 2026 mengatakan penerimaan pajak tersebut tumbuh 34,47 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).

"Capaian penerimaan pajak hingga September 2026 mencapai Rp7.963,09 miliar atau Rp7,96 triliun," katanya.

Menurut Herry, pertumbuhan penerimaan pajak tersebut ditopang oleh penerimaan Pajak Penghasilan (PPh) Nonmigas yang tumbuh 48,29 persen secara tahunan, dengan realisasi mencapai Rp3.598,69 miliar atau sekitar Rp3,59 triliun.

Kontribusi terbesar dari kelompok penerimaan tersebut berasal dari PPh Pasal 25/29 Badan yang mencapai Rp2.226,81 miliar atau sekitar Rp2,22 triliun.

"Ini mengindikasikan adanya perbaikan kinerja korporasi di Kalimantan Tengah, khususnya pada sektor pertanian, kehutanan dan perikanan, serta sektor industri," jelasnya.

Sementara itu, penerimaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Dalam Negeri tumbuh 39,24 persen secara tahunan, dengan realisasi mencapai Rp3.365,48 miliar atau sekitar Rp3,36 triliun.

Menurut DJPb Kalteng, pertumbuhan tersebut mengindikasikan kuatnya permintaan domestik dan aktivitas perdagangan yang menjadi penopang perekonomian Kalimantan Tengah.

Pada sektor perdagangan internasional, penerimaan pajak tercatat sebesar Rp1.227,85 miliar atau sekitar Rp1,22 triliun. Realisasi tersebut terutama ditopang oleh penerimaan bea keluar yang mencapai Rp1.227,56 miliar.

DJPb Kalteng menjelaskan, tingginya penerimaan bea keluar didorong oleh kenaikan harga minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) yang mencapai 1.042,15 dolar AS per metrik ton pada September 2026, serta tingginya permintaan dari India.

Adapun penerimaan bea masuk tercatat sebesar Rp0,28 miliar atau 10,68 persen dari target. Penerimaan tersebut didominasi oleh impor asam karboksilat, yang mencakup 93,38 persen dari komoditas impor asal Brasil. Bahan tersebut digunakan dalam proses penjernihan olahan CPO.

SUMBER: ANTARA