BORNEONEWS, Sampit - Kualitas udara di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai membaik setelah berbulan-bulan berada pada level berbahaya akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Meski mulai membaik, saat ini kualitas udara masih dalam kategori kuning atau tidak sehat.
Berdasarkan pemantauan aplikasi ISPUnet pada Kamis, 29 Oktober 2026, pukul 07.00 WIB, konsentrasi PM2.5 tercatat di angka 121.
Perbaikan kualitas udara ini disambut lega oleh masyarakat Sampit yang selama berbulan-bulan terdampak kabut asap. Warga berharap kondisi tersebut terus membaik hingga udara kembali normal dan aktivitas sehari-hari tidak lagi terganggu asap.
"Alhamdulillah mulai membaik. Semoga kondisinya terus berangsur normal tidak ada asap lagi," ujar Rekha, salah seorang warga Sampit.
Warga menduga penurunan pencemaran udara tersebut berkaitan dengan hujan yang mengguyur Kotim selama dua hari terakhir. Pada Selasa, 27 Oktober 2026, hujan turun dengan intensitas ringan, kemudian disusul hujan deras pada Rabu pagi, 28 Oktober 2026.
Hujan tersebut diharapkan membantu mengurangi kepekatan asap karhutla yang menyelimuti wilayah Sampit. Meski demikian, kondisi kualitas udara masih perlu dipantau karena angka PM2.5 yang tercatat belum menunjukkan udara berada dalam kategori sehat.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kotim Gusti Mukafi sebelumnya menjelaskan, nilai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) dapat berubah mengikuti kondisi lingkungan.
Salah satu faktor yang memengaruhi perubahan tersebut adalah tingkat kepekatan asap akibat kebakaran hutan dan lahan.
Menurutnya, penurunan angka ISPU di Sampit berkaitan dengan berkurangnya asap setelah hujan turun.
Kondisi cuaca tersebut dapat membantu memperbaiki kualitas udara, meskipun perkembangan di lapangan tetap perlu diperhatikan.
Berdasarkan pemantauan ISPUnet, angka PM2.5 sebesar 139 pada Kamis pagi masih masuk kategori tidak sehat.
Perbaikan kualitas udara ini menjadi perkembangan positif bagi Kotim setelah menghadapi kabut asap berkepanjangan. Namun masyarakat diharapkan tetap waspada dan mengikuti pembaruan informasi kualitas udara sembari menunggu kondisi benar-benar kembali normal. (DEWI PATMALASARI/R)









