BORNEONEWS, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah tajam 3,49 persen atau 184,25 poin ke level 5.098,06 pada perdagangan Kamis (29/10/2026). Pelemahan ini sejalan dengan mayoritas bursa Asia di tengah sikap investor yang cenderung risk off atau mengurangi investasi pada aset berisiko.
Indeks saham unggulan LQ45 juga turun 4,48 persen atau 24,19 poin ke posisi 515,28.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, mengatakan tekanan terhadap IHSG dipengaruhi meningkatnya risiko politik, harga minyak yang bertahan di atas 100 dolar AS per barel, serta arus keluar modal asing di tengah pelemahan rupiah.
“IHSG melemah setelah demonstrasi mahasiswa di sejumlah kota besar meningkatkan risiko politik, sedangkan harga minyak yang bertahan di atas 100 dolar AS per barel menambah tekanan terhadap fiskal,” kata Nico dalam kajiannya di Jakarta, Kamis.
Pelaku pasar juga cenderung berhati-hati menjelang rilis sejumlah data ekonomi domestik pekan depan, terutama inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Oktober 2026. Sebelumnya, inflasi September tercatat meningkat menjadi 3,28 persen.
Kondisi tersebut menambah perhatian investor terhadap prospek ekonomi dan arah kebijakan moneter, di tengah pelemahan nilai tukar rupiah serta meningkatnya arus keluar modal asing (foreign outflow).
Dari pasar global, mayoritas bursa Asia bergerak melemah setelah kinerja keuangan sejumlah perusahaan teknologi besar mengecewakan pasar. Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap keberlanjutan investasi besar-besaran di sektor kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Di Jepang, perhatian investor tertuju pada pertemuan kebijakan Bank of Japan (BOJ). Bank sentral tersebut diperkirakan mempertahankan suku bunga, meski berpotensi memberikan sinyal kenaikan pada Desember di tengah tekanan inflasi yang persisten.
Sementara itu, Federal Reserve AS pada Rabu (28/10) mempertahankan suku bunga acuannya sesuai ekspektasi pasar. Namun, dua pejabat menyatakan perbedaan pendapat dengan mendukung kenaikan suku bunga.
Tekanan jual terjadi sepanjang perdagangan. Setelah dibuka menguat, IHSG berbalik ke zona negatif hingga penutupan sesi pertama dan bertahan di wilayah merah pada sesi kedua.
Berdasarkan indeks sektoral IDX-IC, seluruh 11 sektor berakhir melemah. Sektor barang baku mencatat penurunan terdalam sebesar 4,44 persen, disusul sektor infrastruktur yang turun 4,31 persen dan sektor industri melemah 4,18 persen.
Sejumlah saham yang mencatat kenaikan terbesar antara lain ALKA, YPAS, TMAS, KJEN, dan MKNT. Sebaliknya, IDEA, SOFA, MEJA, LMAX, dan SPRE menjadi saham dengan pelemahan terbesar.
Aktivitas perdagangan saham di BEI mencatat frekuensi 1,31 juta transaksi dengan volume 22,64 miliar saham dan nilai transaksi mencapai Rp11,28 triliun.
Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, sebanyak 104 saham menguat, 653 saham melemah, dan 206 saham stagnan.
Di kawasan Asia, pergerakan indeks bervariasi. Nikkei Jepang menguat 1,00 persen ke 64.594,00, sedangkan Kospi Korea Selatan turun 1,24 persen ke 5.937,66.
Shanghai Composite China melemah 0,82 persen ke 3.651,43, Hang Seng Hong Kong turun 0,59 persen ke 22.958,65, dan Strait Times Singapura terkoreksi 0,03 persen ke 5.396,03.
Pelemahan IHSG pada akhir perdagangan tersebut mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap risiko domestik dan global, menjelang rilis data ekonomi penting serta perkembangan kebijakan moneter.
SUMBER: ANTARA








