**Borneonews - Cianjur**, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, mengambil langkah inovatif dengan memanfaatkan pengeras suara yang terpasang di seluruh masjid di sepanjang pesisir selatan sebagai alternatif sirene peringatan untuk kemungkinan tsunami. Langkah ini diambil sebagai upaya untuk meningkatkan sistem peringatan dini bagi masyarakat.
Kepala Pelaksana BPBD Cianjur, Asep Sukma Wijaya, menjelaskan bahwa ada sekitar sembilan sirene peringatan tsunami milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang terpasang di wilayah pesisir selatan Cianjur. Namun, dikhawatirkan sirene-sirene tersebut tidak berfungsi dengan baik. Sirene dari BNPB tidak berbunyi secara otomatis saat ada peringatan tsunami; ia memerlukan tindakan dari operator atau petugas. Oleh karena itu, kami memanfaatkan pengeras suara masjid sebagai pengganti sirene, tuturnya.
Sebagai tambahan informasi, alat peringatan tsunami yang saat ini terpasang ini dikabarkan memerlukan perbaikan, setelah mengalami kerusakan akibat pengaruh lingkungan, seperti pengaruh angin laut. Selain itu, alat tersebut telah terpasang cukup lama sehingga berpotensi tidak berfungsi dengan optimal.
Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, BPBD Cianjur berupaya mencari alternatif lain yang lebih efektif untuk memberi peringatan dini kepada masyarakat. Pengeras suara di masjid-masjid yang terletak di tiga kecamatan di pesisir selatanCidaun, Sindangbarang, dan Agrabintaakan digunakan untuk mengumumkan potensi tsunami.
Kami akan melibatkan puluhan Relawan Tangguh Bencana (Retana). Ketika ada informasi dari BMKG mengenai potensi tsunami, relawan di setiap desa akan segera menyebarkan informasi tersebut melalui pengeras suara masjid, ungkapnya.
Asep juga mencatat bahwa dalam tiga bulan terakhir, BPBD telah melaksanakan simulasi penyelamatan dan penanggulangan bencana tsunami untuk 90 Relawan Tangguh Bencana di 18 desa yang berlokasi di sepanjang pesisir pantai Cianjur selatan. Para Relawan Tangguh Bencana ini dilatih untuk memberi tahu warga tentang jalur evakuasi dalam situasi tsunami. Meskipun kami berharap kejadian tsunami tidak akan pernah terjadi, kewaspadaan tetap harus ditingkatkan, tambahnya.
Dia menginformasikan bahwa setiap desa di wilayah tersebut memiliki lima orang personel Relawan Tangguh Bencana. Total ada 18 desa di Kecamatan Cidaun, Sindangbarang, dan Agrabinta yang telah mengikuti pelatihan simulasi tsunami. "Melalui relawan di setiap desa, kami juga telah memasang rambu-rambu jalur evakuasi di sepanjang pantai selatan Cianjur yang memiliki panjang mencapai 75 kilometer," jelasnya.
Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana yang mungkin terjadi di masa depan.
ANTARA
BPBD Cianjur Manfaatkan Pengeras Suara Masjid untuk Peringatan Tsunami
Bagikan:

BANDUNG –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
BNPB Rayakan Bulan PRB 2024 di Aceh, Kenang 20 Tahun Tsunami
Pusat Mitigasi Gempa dan Tsunami Sumatra Didirikan di Itera
BNPB Ajak Warga Aceh Tingkatkan Mitigasi Bencana Menyusul Tsunami
Delapan Produk Unggulan Pusat Mitigasi Gempa dan Tsunami Itera
Gempa 5,8 Magnitudo di Aceh, BMKG Pastikan Tidak Ada Tsunami
Hampir 80 Persen Masjid di Gaza Hancur Akibat Agresi Israel
Komentar (0)
Memuat komentar…







