BORNEONEWS, Sampit - Penerbangan di Bandara H Asan Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) masih lumpuh akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sejak 23 September 2026. Meski hujan mulai memperbaiki jarak pandang di Sampit, belum ada kepastian kapan seluruh maskapai kembali melayani penerbangan secara normal.
"Penerbangan di Bandara H Asan Sampit sementara ini belum dibuka," kata Kepala Bandara Haji Asan Sampit, Abdul Haris, Selasa, 27 Oktober 2026.
Hingga kini, tiga maskapai yang melayani rute dari dan menuju Sampit masih membatalkan penerbangan karena dampak kabut asap. NAM Air telah memperpanjang pembatalan hingga 2 November 2026, sedangkan Super Air Jet dan Wings Air membatalkan penerbangan hingga 28 Oktober 2026.
Kondisi ini membuat calon penumpang belum bisa memastikan kapan perjalanan udara dari dan menuju Kotim kembali berjalan normal. Pihak bandara juga masih menunggu perkembangan kondisi cuaca dan informasi lanjutan dari masing-masing maskapai.
Kabut asap di Sampit sempat mereda setelah hujan mengguyur wilayah tersebut pada Selasa pagi. Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kotim, jarak pandang pada pukul 07.00 WIB masih sekitar 100 meter.
Setelah hujan turun, jarak pandang meningkat menjadi satu kilometer pada pukul 08.00 WIB. Kondisi tersebut terus membaik hingga mencapai tujuh kilometer pada pukul 16.00 WIB.
Meski demikian, membaiknya jarak pandang dalam satu hari belum menjadi jaminan penerbangan dapat langsung dilaksanakan. Operasional penerbangan tetap mempertimbangkan kondisi aktual dan aspek keselamatan.
Gangguan ini telah berlangsung selama lebih dari satu bulan. Selain menghambat aktivitas masyarakat, kabut asap juga memutus sementara akses transportasi udara yang menjadi salah satu jalur mobilitas warga Kotim.
Sementara itu, District Manager NAM Air Sampit Harli Rahman mengatakan keputusan membatalkan penerbangan mempertimbangkan kondisi cuaca serta dampak asap karhutla terhadap keselamatan penerbangan.
Sebelumnya, NAM Air menetapkan pembatalan hingga 25 Oktober 2026. Namun, kebijakan tersebut kembali diperpanjang hingga 2 November 2026 karena kondisi di Sampit belum memungkinkan untuk kembali beroperasi.
"Pembatalan penerbangan ini dikarenakan asap karhutla yang berdampak pada keselamatan penerbangan. Seperti sebelumnya, pembatalan kita lakukan secara berkala dengan melihat kondisi cuaca di Sampit," ujar Harli.
Ia mengatakan, pihak maskapai terus memantau perkembangan kabut asap untuk menentukan kemungkinan pembukaan kembali layanan penerbangan.
"Semoga awal bulan depan ini sudah berangsur membaik kondisinya dan memungkinkan kita untuk bisa beroperasi lagi," imbuhnya.
Belum normalnya penerbangan berdampak pada masyarakat yang hendak bepergian dari maupun menuju Kotim. Calon penumpang diminta tidak hanya mengandalkan informasi mengenai membaiknya cuaca, tetapi juga memastikan status penerbangan melalui kanal resmi maskapai.
Informasi mengenai jadwal keberangkatan, pembatalan, perubahan penerbangan, serta penanganan tiket perlu dipantau secara berkala selama gangguan masih berlangsung. (DEWI PATMALASARI/H)









