JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sedang melaksanakan uji coba pemodelan kecerdasan buatan atau *artificial intelligence* (AI) untuk meningkatkan akurasi dalam diagnosis berbagai penyakit. Inisiatif ini bertujuan untuk mendukung pengembangan kedokteran presisi di Indonesia. Dalam pertemuan dengan awak media, Setiaji, selaku Kepala Digital Transformation Office (DTO) Kemenkes, menjelaskan bahwa beberapa rumah sakit telah dipilih untuk melakukan pengujian model AI ini. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa model yang diterapkan sesuai dan efektif dalam konteks lokal, meskipun mungkin telah menunjukkan hasil yang baik di lokasi lain. Salah satu fokus utama dari pengujian ini adalah untuk mendiagnosis penyakit serius seperti kanker paru-paru dan penyakit yang berhubungan dengan otak melalui analisis *image* atau gambar. Setiaji menekankan pentingnya pemanfaatan AI secara optimal, terutama dalam layanan kesehatan non-klinis pada tahap awal. Pendekatan ini diharapkan mampu menjangkau lebih banyak masyarakat dan memfasilitasi deteksi dini berbagai kondisi kesehatan. Menurutnya, hasil survei Future Health Index jadi acuan yang baik untuk menambah fokus ke depan dalam hal meningkatkan diagnosis dan penanganan penyakit. Selain untuk mendeteksi hipertensi, AI juga akan berfungsi dalam identifikasi penyakit lainnya seperti diabetes. Bahkan, teknologi ini direncanakan dapat digunakan untuk memberikan informasi terkait timbangan anak di posyandu. "Ketika seorang ibu membawa anaknya ke posyandu untuk ditimbang, sistem akan menghasilkan video yang menjelaskan hasil timbangan tersebut," ungkap Setiaji. Dalam uji coba yang dilakukan, mereka juga sedang memperhatikan penerapan AI dalam interpretasi foto rontgen dan foto otak. Selain itu, Kemenkes berusaha meningkatkan layanan antrean dengan memanfaatkan teknologi AI. Meskipun saat ini sudah ada sistem antrean daring atau *online*, tantangan baru muncul ketika pasien datang ke fasilitas kesehatan. Banyak lokasi yang belum memiliki akses internet memadai, sehingga penggunaan teknologi satelit menjadi solusi untuk menjangkau area yang lebih terpencil. Saat ini, sekitar 60 persen fasilitas kesehatan di Indonesia telah terhubung dengan sistem Satu Sehat. Setiaji menambahkan bahwa integrasi ini meliputi rumah sakit, laboratorium, dan layanan primer, yang memungkinkan masyarakat untuk mengakses rekam medis mereka melalui aplikasi Satu Sehat. Aplikasi ini kini dapat diakses dengan melakukan *login* menggunakan Identitas Kependudukan Digital (IKD). Kemenkes juga telah bermitra dengan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri untuk memperluas akses, termasuk rencana penggunaan digital ID di masa mendatang. ANTARA