BORNEONEWS, Palangka Raya – Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Tengah mengingatkan adanya sejumlah risiko yang berpotensi memicu tekanan inflasi pada Juni hingga Juli 2026.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Tengah Yuliansah Andrias menyebut sejumlah faktor eksternal dan struktural perlu menjadi perhatian bersama dalam upaya menjaga stabilitas harga.
“Kita perlu mengantisipasi risiko inflasi ke depan karena berdasarkan pola historis, setelah periode deflasi biasanya akan kembali terjadi tekanan inflasi. Apalagi saat ini terdapat sejumlah faktor eksternal dan struktural yang perlu mendapat perhatian bersama,” kata Yuliansah seperti dikutip borneonews pada Jumat, 5 Juni 2026.
Menurutnya, risiko tersebut antara lain ketidakpastian geopolitik global yang dapat memengaruhi harga energi, potensi dampak El Nino terhadap produksi pangan, tingginya ketergantungan pasokan dari luar daerah, serta meningkatnya mobilitas masyarakat selama masa libur sekolah.
Bank Indonesia menilai berbagai faktor tersebut perlu diantisipasi sejak dini agar tidak memberikan tekanan lebih besar terhadap inflasi daerah.
Karena itu, pengendalian inflasi memerlukan langkah bersama dari seluruh pihak terkait guna menjaga stabilitas harga dan ketahanan pangan di Kalimantan Tengah. (HERMAWAN DP/y)
BI Kalteng Ingatkan Potensi Tekanan Inflasi pada Juni hingga Juli 2026
Bagikan:

Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
BPS Catat Kunjungan Wisatawan Nusantara ke Kalteng Tembus 1,09 Juta Perjalanan pada Juli 2026
Pertumbuhan Ekonomi Kalteng Triwulan II 2026 Tetap Diiringi Perhatian terhadap Inflasi
Penumpang Pesawat di Kalteng Naik 8,60 Persen pada Juli 2026
Inflasi Kalteng Tembus 4,96 Persen pada Agustus 2026, Tertinggi Kedua Nasional
Harga Beras Jadi Penyumbang Inflasi Kalteng, BPS Dorong Pergeseran Pola Tanam
Pakaian dan Alas Kaki di Kalteng Inflasi 2,03 Persen, Seragam Sekolah Ikut Terdorong
Komentar (0)
Memuat komentar…







