BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Penutupan paksa lokasi prostitusi Simpang Kodok, Pangkalan Bun dinilai gagal total. Lokasi tersebut kembali menjadi tempat mangkal pekerja seks komersial (PSK) hanya beberapa bulan setelah diratakan dengan tanah.
"Tanpa program pemberdayaan ekonomi yang matang, penutupan dengan mengerahkan puluhan personel dan alat berat hanya buang-buang anggaran," kata tokoh pemuda Kobar, Juriansyah, Jumat (3/2/2017).
Menurutnya, tanpa solusi yang tepat, PSK pasti kembali lagi. Jika tidak, justru mereka akan menyebar, menjajakan diri di warung remang-remang, salon 'plus-plus', dan tempat bisnis esek-esek terselubung lainnya.
"Terlebih untuk PSK yang sudah tua. Penampilannya tak lagi menggoda. Tak punya keterampilan lain untuk bertahan hidup," jelasnya.
Seharusnya, lanjut dia, Pemkab punya modal. Menciptakan program-program bermutu untuk memberdayakan ekonomi penghuni lokasi praktek prostitusi agar PSK bisa membuka lembaran hidup baru. "Pemkab jangan tanggung sendiri beban ini. Ajak perguruan tinggi dan ulama untuk duduk bersama!" sarannya.
Juriansyah juga menyarankan, ulama bisa dilibatkan dalam mencari motivasi perubahan diri PSK. Sementara perguruan tinggi bisa membantu dalam riset lapangan. Yang penting, tegasnya, agar anggaran tidak terbuang sia-sia. (FAHRUDDIN FITRIYA/B-10)
Penutupan Simpang Kodok tak Membuat Prostitusi Berakhir
Redaksi
Bagikan:
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Janji Pemkab Kobar Tutup Lokalisasi Prostitusi Dipertanyakan
Simpang Kodok Kembali Menyediakan Jasa Esek-Esek
Lokalisasi Prostitusi di Kotawaringin Timur Harus Diawasi karena Penundaan Penutupan
Wow, Bertransaksi di Lokasi Prostitusi Dukuh Mola Cukup dengan Gesek Kartu Saja!
Satpol PP Ciduk Mucikari dan PSK Simpang Kodok
Penutupan Lokalisasi PSK Bukan Solusi
Komentar (0)
Memuat komentar…

