BORNEONEWS, Sampit - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengimbau masyarakat agar menghindari konsumsi air hujan yang turun selama pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Kepala Dinas Kesehatan Kotim Umar Kaderi mengatakan, berdasarkan informasi dari BMKG, modifikasi cuaca berlangsung hingga 5 November 2026. Masyarakat disarankan tidak menjadikan air hujan pada periode tersebut sebagai sumber air minum.
"Karena modifikasi cuaca menggunakan garam, oleh karena itu, awal hujan itu lebih baik dihindari air minum yang bersumber dari air hujan," kata Umar Kaderi, Rabu, 28 Oktober 2026.
Ia menjelaskan konsumsi air hujan yang terpengaruh proses modifikasi cuaca perlu diwaspadai, terutama oleh masyarakat yang memiliki kondisi kesehatan tertentu.
Orang dengan hipertensi berisiko mengalami peningkatan tekanan darah. Sementara itu, bagi penderita gangguan ginjal, konsumsi air yang mengandung garam dikhawatirkan dapat memperburuk kondisi kesehatannya.
"Sebenarnya dampaknya tidak terlalu sedemikian, cuma bagi orang yang punya hipertensi, tensinya akan meningkat. Kalau misalnya ada gangguan ginjal, itu akan bisa memperparah," ujarnya.
Umar mengingatkan masyarakat agar mengutamakan sumber air minum yang aman dan menghindari konsumsi langsung air hujan selama pelaksanaan OMC.
"Dihindari untuk konsumsi air hujan yang hasil modifikasi cuaca (OMC)," pungkasnya.
Masyarakat dapat memantau informasi mengenai pelaksanaan modifikasi cuaca melalui BMKG serta memilih sumber air minum yang terjamin kebersihannya dan aman dikonsumsi. (DEWI PATMALASARI/R)









