BORNEONEWS, Sampit – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kabupaten Kotawaringin Timur memprediksi fenomena El Niño akan bertahan hingga awal 2027.

Kondisi ini yang disertai Indian Ocean Dipole (IOD) fase positif, berpotensi menyebabkan penurunan curah hujan di wilayah Indonesia, termasuk Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).

‎‎Kepala BMKG Kotim , Mulyono Leo Nardo, menyampaikan bahwa kombinasi kedua fenomena iklim tersebut perlu menjadi perhatian karena dapat memengaruhi kondisi cuaca, terutama ketersediaan air dan potensi kekeringan di daerah.

‎"Berdasarkan prediksi BMKG, curah hujan di wilayah Kotim pada November diperkirakan berada pada kategori menengah, yakni berkisar antara 100 hingga 300 milimeter, " katanya, Kamis, 29 Oktober 2026

Itu ia sampaikan saat rapat evaluasi penanggulangan karhutla di daerah tersebut. Dia menyampaikan untuk sifat hujan diprediksi bervariasi, mulai dari bawah normal dengan kisaran 50–84 persen hingga atas normal sebesar 116–150 persen.

‎‎Perbedaan sifat hujan tersebut menunjukkan bahwa kondisi curah hujan dapat berbeda di setiap wilayah. Karena itu masyarakat diharapkan tetap memperhatikan informasi cuaca dan perkembangan iklim yang disampaikan BMKG.

‎Langkah antisipasi sejak dini diperlukan agar dampak perubahan kondisi iklim dapat diminimalkan.

Koordinasi antarpihak serta kesiapsiagaan masyarakat menjadi bagian penting dalam menghadapi potensi kekeringan maupun risiko karhutla.

‎BMKG mengingatkan pentingnya memantau pembaruan informasi cuaca dan iklim sebagai dasar dalam merencanakan aktivitas, terutama bagi sektor yang sangat bergantung pada kondisi hujan.

‎‎Dengan memahami perkembangan iklim tersebut, masyarakat dan pemerintah daerah diharapkan dapat mengambil langkah yang tepat untuk menjaga ketersediaan air, melindungi lingkungan, serta mengantisipasi dampak cuaca kering di Kabupaten Kotawaringin Timur. (DEVI/R)