PALANGKA RAYA – BORNEONEWS, JAKARTA – Menteri Keuangan Suahasil Nazara memastikan kredibilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap terjaga di tengah kenaikan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) yang telah mencapai 7,64 persen.
“Pembiayaan kami jalankan sehingga kemudian bisa menciptakan APBN yang kredibel,” kata Suahasil kepada wartawan dalam kegiatan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Kadin di Jakarta, Jumat (30/10/2026).
Suahasil menjelaskan, pengelolaan pembiayaan anggaran dilakukan untuk menjaga fleksibilitas belanja negara agar pemerintah dapat merespons berbagai perkembangan kondisi ekonomi, termasuk dinamika perekonomian global.
Menurutnya, kondisi ekonomi saat ini masih menghadapi sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi, antara lain volatilitas harga komoditas dan kenaikan suku bunga di berbagai negara.
“Jadi, APBN memang harus fleksibel dalam konteks seperti itu. Dia adalah alat untuk menyejahterakan, untuk menumbuhkan, untuk melindungi masyarakat. Namun, dia harus tetap dipercaya bahwa akan bisa bekerja dengan baik,” tuturnya.
Berdasarkan data pemerintah, realisasi pembiayaan utang hingga 30 September 2026 mencapai Rp494,3 triliun atau 59,4 persen dari target APBN 2026 sebesar Rp832,2 triliun.
Pembiayaan melalui penerbitan SBN secara neto tercatat sebesar Rp497,5 triliun atau 62,2 persen dari target Rp799,5 triliun. Sementara itu, pembiayaan melalui pinjaman tercatat negatif Rp3,2 triliun, berbanding dengan target pembiayaan pinjaman neto sebesar Rp32,7 triliun.
Sebelumnya, dalam konferensi pers APBN KiTa di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (9/10), Suahasil menyatakan realisasi pembiayaan utang masih berjalan sesuai rencana (on track). Pelaksanaannya tetap mempertimbangkan kebutuhan kas pemerintah serta perkembangan pasar keuangan domestik dan global.
Ia menegaskan, pemerintah akan tetap berhati-hati dalam menerbitkan SBN dengan memperhatikan kondisi pasar obligasi dan dinamika perekonomian global.
“Kita sangat memperhatikan kondisi pasar SBN dan juga kondisi ekonomi global. Karena menerbitkan SBN ini harus dilakukan dengan sangat hati-hati, melihat kondisi pasar, tapi juga harus oportunistik,” katanya.
Suahasil menambahkan, penerbitan SBN akan disesuaikan dengan kondisi pasar guna menjaga efisiensi biaya pembiayaan pemerintah.
“Kalau lagi bagus pasarnya, kita terbitkan. Lagi kurang bagus pasarnya, kita agak lakukan adjustment sedikit,” ujarnya.
SUMBER: ANTARA








