BORNEONEWS, Sampit - Bupati Kotawaringin Timur (Kotim) Halikinnor akan berkoordinasi dengan Gubernur Kalimantan Tengah dan perusahaan PT GAP untuk mencari solusi terkait status kawasan yang menghambat rencana peningkatan Jalan Simpur-Soren. Ruas tersebut merupakan lanjutan Jalan Kandan-Camba yang direncanakan membuka akses hingga Desa Tangar, Kecamatan Mentaya Hulu.

"Terkendala yang sedikit di kawasan, nanti kita bisa koordinasi dengan Pak Gubernur, nanti saya minta juga dari perusahaan PT GAP, untuk jalan itu, pernyataan dari perusahaan agar tidak mempermasalahkannya yang di Simpur-Soren sedikit itu," kata Halikinnor, Selasa, 27 Oktober 2026.

Halikinnor menjelaskan, pembangunan Jalan Kandan-Camba saat ini masih berlanjut dengan menyesuaikan kemampuan anggaran daerah. Ruas yang dikerjakan tahun ini ditargetkan mencapai pengaspalan sepanjang 2.137 meter.

Pemerintah daerah berharap pembangunan tersebut dapat diteruskan ke arah Simpur-Soren hingga tembus Desa Palangan. Jika anggaran memungkinkan, pembangunan jembatan juga direncanakan untuk menghubungkan akses menuju Desa Tangar, Kecamatan Mentaya Hulu.

"Nanti minimal sampai Palangan. Kalau kita punya anggaran sampai Palangan menyeberang nanti buat jembatan di situ, untuk ke Tangar (Mentaya Hulu) itu jauh sekali memotongnya. Sehingga orang kalau mau ke Sampit tidak lagi lewat tanah sana, tapi lewat jalan ini, dekat," ujarnya.

Menurut Halikinnor, akses jalan yang semakin baik diharapkan mendorong pertumbuhan sentra produksi dan permukiman masyarakat di sepanjang jalur tersebut. Konektivitas yang terbuka juga berpotensi mempersingkat perjalanan warga menuju Sampit.

Sementara itu, Kepala Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, Bina Konstruksi, Penataan Ruang, Perumahan Rakyat, dan Kawasan Permukiman (SDABMBKPRKP) Kotim Mentana Dhinar Tistama mengatakan, rencana penanganan Jalan Simpur-Soren memerlukan pembahasan lintas organisasi perangkat daerah (OPD).

Menurutnya, terdapat persoalan status lahan yang berkaitan dengan hak guna usaha (HGU) perusahaan dan kawasan hutan produksi (HP). Karena itu, pemerintah perlu memetakan kondisi serta status kawasan secara lebih terperinci sebelum menentukan langkah penanganan.

"Itu nanti kita rapatkan lebih lanjut dengan OPD terkait, nanti kita tentukan langkah-langkahnya seperti apa. karena itu kaitannya ada HGU perusahaan, kemudian ada yang kawasan hutan produksi. Ini nanti kita petakan lebih detail seperti apa, kemudian tindak lanjutnya yang pasti detailnya seperti apa. Baru penanganannya nanti. Yang pasti penanganannya nanti sampai ke pusat untuk bagaimana supaya jalan itu bisa kita tingkatkan, bisa kita perbaiki," ujarnya.

Ia menjelaskan, ruas Simpur-Soren diperkirakan memiliki panjang sekitar 4 hingga 6 kilometer. Jalur tersebut sebelumnya pernah dibuka, tetapi kini sebagian besar kembali tertutup sehingga sulit dilalui kendaraan dan hanya memungkinkan akses dengan berjalan kaki.

Dari titik pembangunan Jalan Kandan-Camba yang sedang dikerjakan, masih terdapat jarak sekitar 6 kilometer menuju kawasan Simpur-Soren.

Mentana menegaskan, pemerintah akan membahas persoalan tersebut lebih lanjut untuk menentukan tahapan penanganan, termasuk langkah yang perlu ditempuh hingga tingkat pemerintah pusat agar peningkatan jalan dapat direalisasikan.

Adapun untuk pembangunan lanjutan Jalan Kandan-Camba tahun ini, pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp11,9 miliar. Pekerjaan sepanjang 2.137 meter ditargetkan selesai sebelum akhir 2026 dengan kondisi akhir teraspal.

"Secara garis besar Jalan Kandan-Camba progresnya berjalan sesuai rencana. Jadi, kita targetnya sebelum akhir tahun nanti sudah selesai, sudah teraspal sepanjang 2.137 meter, itu target kita untuk tahun ini," kata Mentana.

Mentana mengatakan, Bupati Kotim juga menginginkan pembangunan diteruskan pada tahun berikutnya, terutama untuk menangani bagian ruas yang masih agregat. (DEWI PATMALASARI/H)