BORNEONEWS, Sampit - Siswi berusia 10 tahun yang menjadi korban perundungan di Kecamatan Baamang, Kabupaten Kotawaringin Timur akan melanjutkan pendidikan di Sekolah Dasar Negeri (SDN) setelah sebelumnya bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah (MI) swasta.
"Kami memang mengomunikasikan dengan ananda terkait bagaimana kelanjutannya untuk bersekolah. Jadi, pada kesempatan ini kita juga menanyakan kembali kepadanya, ananda akan melanjutkan sekolah itu ke sekolah mana," kata Kepala Disdik Kotim Yolanda Lonita Fenisia, Selasa, 27 Oktober 2026.
Yolanda menjelaskan keputusan pindah sekolah diambil keluarga setelah Disdik Kotim mengunjungi kediaman korban untuk membahas kelanjutan pendidikannya.
Kunjungan tersebut merupakan tindak lanjut arahan Bupati Kotim agar anak tetap mendapatkan akses pendidikan setelah mengalami perundungan.
Siswi yang sebelumnya duduk di kelas 3 MI itu sempat kehilangan minat untuk bersekolah akibat perundungan yang berulang kali dialaminya.
Kondisi tersebut mendorong pemerintah daerah untuk memastikan keberlanjutan pendidikannya sekaligus memperhatikan kebutuhan pemulihan psikologisnya.
Berdasarkan hasil komunikasi dengan korban dan keluarga, diputuskan bahwa siswi tersebut akan melanjutkan sekolah di salah satu SD Negeri di Kecamatan Baamang. Meski lokasinya tidak terlalu dekat dengan tempat tinggal korban, pilihan sekolah diserahkan kepada keluarga dengan mempertimbangkan kondisi anak.
"Kita mengembalikan kepada pihak keluarga untuk memutuskan ananda untuk melanjutkan pendidikan itu di satuan pendidikan mana. Nah, jadi memang dari pihak keluarga menyampaikan bahwa ananda akan melanjutkan itu di SD Negeri di Baamang," ujar Yolanda.
Disdik Kotim berkoordinasi dengan pengurus Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dari Kecamatan Mentawa Baru Ketapang dan Baamang. Perwakilan Kementerian Agama serta instansi yang menangani pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak juga hadir dalam pertemuan itu.
Koordinasi tersebut dilakukan untuk membahas kelanjutan pendidikan sekaligus pendampingan terhadap korban yang mengalami trauma akibat perundungan.
"Kita juga di sini ada teman-teman dari Kemenag dan dari Pemberdayaan Perempuan, kita bersinergi terkait bagaimana mengatasi kondisi ananda yang mengalami trauma," tambahnya.
Yolanda berharap proses perpindahan sekolah berjalan lancar sehingga korban dapat kembali mengikuti pembelajaran dengan aman dan nyaman. (DEWI PATMALASARI/R)









