BORNEONEWS, Palangka Raya - Posko Penanganan Darurat Bencana (PDB) Karhutla Provinsi Kalimantan Tengah mencatat hanya 11 titik panas (hotspot) di seluruh provinsi berdasarkan data terbaru Selasa malam 27 Oktober 2026.
Data BRIN dan SiPongi itu tercantum dalam infografis harian pukul 18.00 WIB, dan seluruhnya berkonfidensi sedang. Jumlah tersebut jauh di bawah 770 titik pada laporan 25 Oktober.
Sebanyak 9 titik berada di Lamandau, sedangkan Kotawaringin Barat dan Kotawaringin Timur masing-masing 1 titik. Seluruh kabupaten/kota lainnya tidak mencatat hotspot. Laporan tidak menjelaskan penyebab penurunan itu.
Meski hotspot nyaris nol, kejadian karhutla tetap dilaporkan. Tercatat 43 kejadian dengan luas terbakar 37,94 hektare pada hari itu, dibandingkan 63 kejadian dan 137,27 hektare pada laporan 25 Oktober.
Kotawaringin Timur menjadi wilayah dengan kejadian terbanyak, yakni 21 kejadian atau sekitar 49 persen dari seluruh kejadian harian, tetapi luas terbakarnya hanya 2,24 hektare. Kapuas mencatat 6 kejadian seluas 9,8 hektare.
Luas terbakar terbesar tercatat di Sukamara, yaitu 10,3 hektare dari 3 kejadian. Kota Palangka Raya mencatat 4 kejadian seluas 6 hektare, Seruyan 1 kejadian seluas 4 hektare, dan Barito Selatan 3 kejadian seluas 2,7 hektare.
Kejadian di wilayah lain meliputi Barito Utara dan Murung Raya masing-masing 1 kejadian seluas 1 hektare, serta Lamandau 1 kejadian seluas 0,9 hektare. Katingan melaporkan 2 kejadian dengan luas terbakar 0,00 hektare. Barito Timur, Gunung Mas, Kotawaringin Barat, dan Pulang Pisau tidak melaporkan kejadian.
Di lapangan, regu-regu Posko PDB melakukan 39 penanganan, seluruhnya berupa titik penanganan lanjutan tanpa titik baru. Luas lahan yang dipadamkan tercatat 1,25 hektare, yang terdiri atas 1,00 hektare oleh Posko PDB MPA Kereng Bangkirai, 0,16 hektare oleh Damkar Setwan Provinsi, dan 0,09 hektare oleh Regu A Posko Krisis.
Laporan mencatat 16.478 personel gabungan terlibat dalam penanganan karhutla. Dari 28 titik CCTV pemantau, hanya 6 titik yang dapat dipantau, sedangkan 22 titik lainnya kehilangan sinyal (lost signal).
Hotspot merupakan indikasi titik panas dari satelit, sehingga jumlahnya tidak selalu sama dengan jumlah kebakaran di lapangan. (HERMAWAN DP/H)









