BORNEONEWS, Palangka Raya – Jumlah titik panas atau hotspot di Kalimantan Tengah terpantau 70 titik pada Rabu, 28 Oktober 2026, pukul 00.00–14.00 WIB. Hujan yang mengguyur sejumlah wilayah di provinsi ini menjadi harapan untuk menekan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Berdasarkan peta sebaran hotspot BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut, seluruh 70 titik tersebut masuk kategori tingkat kepercayaan menengah. Tidak ada titik yang tercatat dalam kategori rendah maupun tinggi pada periode pemantauan itu.
Kabupaten Kotawaringin Timur mencatat jumlah hotspot terbanyak, yakni 31 titik. Berikutnya Kabupaten Seruyan dengan 21 titik dan Kotawaringin Barat sebanyak 15 titik.
Sementara itu, dua titik terpantau di Kabupaten Katingan dan satu titik di Murung Raya. Adapun Kabupaten Kapuas, Barito Selatan, Barito Timur, Barito Utara, Gunung Mas, Lamandau, Palangka Raya, Pulang Pisau, dan Sukamara tercatat nihil hotspot.
Prakirawan BMKG Palangka Raya, Neng Arini, sebelumnya menyampaikan bahwa berdasarkan pemantauan satelit, tidak ditemukan hotspot di Kapuas pada periode yang sama.
“Kalau dari satelit sebaran titik hotspot hari ini pukul 00–14 WIB di Kapuas terpantau 0 hotspotnya,” ujar Neng Arini saat dikonfirmasi, Rabu.
Hujan turun di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah, termasuk Kabupaten Kapuas, pada Rabu dini hari. Namun, data yang tersedia belum cukup untuk memastikan seberapa besar penurunan hotspot disebabkan langsung oleh hujan.
Neng Arini menyebutkan, citra satelit untuk memantau kondisi atmosfer dapat diakses masyarakat melalui laman resmi BMKG. Citra tersebut tersedia berdasarkan wilayah provinsi dan dapat digunakan untuk melihat gambaran kondisi awan.
“Kalau dari BMKG untuk citra satelit bisa diakses di sini [https://www.bmkg.go.id/cuaca/satelit/himawari-ir-enhanced/18](https://www.bmkg.go.id/cuaca/satelit/himawari-ir-enhanced/18?utm_source=chatgpt.com), tersedia per provinsi,” katanya.
Meski jumlah hotspot di Kapuas tercatat nol, kondisi tersebut tidak otomatis berarti seluruh kebakaran telah padam atau asap sudah hilang. Pemantauan lanjutan tetap diperlukan, terutama karena BMKG masih memperkirakan potensi hujan sedang hingga lebat di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah. (SABRIANOOR/y)









