BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, mencapai 591 kasus pada minggu epidemiologi ke-41 tahun 2026. Angka tersebut menjadi yang tertinggi selama periode pemantauan dan meningkat 16,8 persen dibandingkan minggu sebelumnya.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kobar melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) dr.Jhonferi Sidabalok, mengatakan berdasarkan pemantauan pada minggu epidemiologi ke-29 hingga ke-41, total laporan empat kelompok penyakit yang menjadi perhatian selama periode karhutla mencapai 8.482 kasus. ISPA menjadi penyakit dengan jumlah laporan terbanyak, yakni 6.362 kasus.
“Untuk ISPA, total 6.362 kasus. Di minggu terakhir M-41 ini ada kenaikan lagi menjadi 591 kasus, naik 16,8 persen dari minggu sebelumnya dan ini menjadi angka tertinggi selama periode pemantauan,” ujarnya, Rabu, 28 Oktober 2026.
Menurut dr.Jhonferi Sidabalok, peningkatan ISPA pada periode akhir Juli hingga Agustus terjadi bersamaan dengan meningkatnya aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kenaikan kasus juga kembali terlihat pada akhir September hingga periode pemantauan terbaru.
Meski demikian, ia menyampaikan, kesamaan waktu antara peningkatan kasus dan aktivitas karhutla belum membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung. Paparan asap menjadi salah satu faktor lingkungan yang perlu diperhatikan dalam evaluasi perkembangan penyakit pernapasan.
Selain ISPA, Dinkes Kobar turut memantau kasus diare akut yang selama periode tersebut tercatat sebanyak 1.541 kasus. Pada minggu epidemiologi ke-41, jumlahnya turun menjadi 100 kasus, setelah sempat mencapai puncak 183 kasus pada minggu ke-30.
“Alhamdulillah di M-41 ini trennya menurun menjadi 100 kasus, turun dibanding minggu sebelumnya. Puncak diare sebelumnya terjadi di M-30 sebanyak 183 kasus,” jelasnya.
Kemudian, ia mengatakan, persoalan kesehatan selama periode karhutla tidak hanya berkaitan dengan gangguan pernapasan. Ketersediaan air bersih dan sanitasi juga menjadi perhatian karena berhubungan dengan upaya pencegahan diare.
Sementara itu, pneumonia tercatat sebanyak 348 kasus dan influenza-like illness (ILI) atau penyakit dengan gejala menyerupai influenza sebanyak 231 kasus selama periode pemantauan. Kedua kelompok penyakit tersebut tetap menjadi perhatian Dinkes Kobar dalam memantau perkembangan kondisi kesehatan masyarakat. (NURITA/H)









