BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah saat asap karhutla menebal serta meningkatkan kebersihan diri dan lingkungan untuk mencegah ISPA dan diare.

Kadinkes Kobar Hardino melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kobar, dr.Jhonferi Sidabalok, mengatakan masyarakat perlu menerapkan langkah pencegahan, mulai dari menggunakan masker saat berada di luar ruangan hingga memastikan air minum dan makanan tetap aman dikonsumsi.

“Kurangi aktivitas di luar rumah saat asap tebal, terutama pagi dan sore hari. Jika harus keluar, wajib pakai masker standar, minimal masker bedah atau N95,” imbauannya, Rabu, 28 Oktober 2026.

Berdasarkan pemantauan minggu epidemiologi ke-29 hingga ke-41 tahun 2026, tercatat 6.362 laporan ISPA. Pada minggu ke-41, jumlahnya mencapai 591 kasus, meningkat 16,8 persen dibandingkan minggu sebelumnya.

Menurut dr.Jhonferi Sidabalok, kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus meliputi balita, lansia, ibu hamil, serta penderita asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Masyarakat juga diminta menjaga daya tahan tubuh dengan mencukupi kebutuhan air minum, mengonsumsi buah dan sayur, serta beristirahat dengan cukup.

Selain gangguan pernapasan, pencegahan diare juga menjadi perhatian di tengah persoalan ketersediaan air bersih. Dinkes Kobar mencatat total 1.541 laporan diare akut selama periode pemantauan. Pada minggu epidemiologi ke-41, jumlah kasus tercatat 100, turun dari 102 kasus pada minggu sebelumnya.

Untuk mencegah diare, dr.Jhonferi Sidabalok mengingatkan masyarakat memastikan air minum dimasak hingga mendidih, mencuci tangan menggunakan sabun, dan menjaga kebersihan makanan. Upaya tersebut penting dilakukan bersamaan dengan perhatian terhadap sanitasi dan kondisi lingkungan.

Ia juga meminta masyarakat segera mendatangi puskesmas atau rumah sakit apabila mengalami gejala seperti batuk yang tidak kunjung sembuh, sesak napas, demam, mata perih, atau diare. Pemeriksaan sebaiknya tidak ditunda, terutama bagi anak-anak dan lansia yang lebih rentan mengalami komplikasi.

“Segera periksa ke Puskesmas atau Rumah Sakit jika ada gejala batuk tidak sembuh, sesak napas, demam, mata perih, atau diare. Jangan ditunda, terutama untuk anak-anak dan lansia,” tegasnya.

Kemudian, ia juga turut mengajak masyarakat berperan dalam mencegah terjadinya karhutla. Ia menilai, upaya pencegahan kebakaran perlu dilakukan bersama agar risiko terhadap kesehatan dan lingkungan dapat diminimalkan.

“Mari bersama cegah karhutla, karena mencegah jauh lebih baik daripada mengobati,” pungkasnya. (NURITA/H)