BORNEONEWS, Palangka Raya – Minimnya laporan resmi kasus infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA pada hewan di Kota Palangka Raya menjadi perhatian di tengah ancaman kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan atau karhutla.
Gejala gangguan kesehatan yang tidak dikenali sejak awal berpotensi membuat dampak paparan asap terhadap hewan luput dari pemantauan.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Kesehatan Masyarakat Veteriner, Pengolahan dan Pemasaran Hasil Ternak Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kota Palangka Raya, drh Ganjar Priyatno mengatakan, sedikitnya laporan yang tercatat dalam basis data dinas tidak serta-merta menunjukkan hewan terbebas dari risiko gangguan kesehatan.
Salah satu kendalanya adalah pemilik hewan dan peternak yang belum memahami kaitan antara paparan asap dengan gejala penyakit pada hewan.
“Pemilik hewan atau peternak kerap menganggap gejala flu, batuk, dan lemas sebagai efek pancaroba biasa. Mereka belum menyadari bahaya paparan partikel halus asap,” kata drh Ganjar pada Selasa, 27 Oktober 2026.
Menurut Ganjar, keluhan yang sejauh ini masuk ke pusat kesehatan hewan (Puskeswan) didominasi ternak unggas dan mamalia kecil. Gejala yang dilaporkan antara lain penurunan nafsu makan, iritasi mata, serta batuk ringan.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam penanganan dampak karhutla terhadap kesehatan hewan. Ketika gejala dianggap sebagai gangguan biasa, pemilik berpotensi terlambat mencari pertolongan medis. Akibatnya, kasus yang terjadi di lapangan belum tentu seluruhnya tercermin dalam laporan resmi.
"Untuk mengantisipasi risiko tersebut, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Palangka Raya meningkatkan pemantauan langsung melalui tim medis dan paramedik veteriner," katanya lagi.
Pengawasan terutama dilakukan ketika Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) berada pada kategori tidak sehat hingga berbahaya.
“Kami menurunkan tim medik dan paramedik untuk pemantauan lapangan, terutama saat ISPU masuk kategori tidak sehat hingga berbahaya,” terang Ganjar.
Pemantauan diprioritaskan di sentra peternakan sapi, kambing, dan unggas yang berada di wilayah rawan karhutla. Daerah sasaran meliputi Kecamatan Jekan Raya, Sebangau, dan Pahandut. Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan gangguan kesehatan hewan selama kualitas udara memburuk.
Di tingkat rumah tangga, pemilik anjing dan kucing diminta membatasi aktivitas hewan di luar rumah selama kabut asap.
Sementara itu, peternak perlu memastikan pakan dan air minum tidak tercemar abu pembakaran. Kandang juga harus dilindungi dari arah datangnya asap tanpa menghambat sirkulasi udara.
Ganjar mengimbau masyarakat tidak menunggu kondisi hewan memburuk sebelum mencari pertolongan. Jika ditemukan gejala seperti batuk, iritasi mata, penurunan nafsu makan, atau kondisi lemas, pemilik dapat membawa hewan ke Puskeswan Palangka Raya maupun melaporkannya melalui call center dan media sosial resmi dinas.
Pelaporan juga dapat dilakukan melalui penyuluh pertanian lapangan (PPL) setempat untuk diteruskan kepada tim medis hewan.
Dinas menyediakan layanan pemeriksaan dan pengobatan, termasuk pembagian vitamin gratis serta edukasi pengelolaan kandang saat darurat karhutla.
Penanganan dampak karhutla terhadap hewan juga melibatkan Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI), klinik hewan swasta, dan komunitas pecinta hewan melalui pendekatan one health. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk menyelaraskan data dan penanganan kesehatan hewan di lapangan.
Sementara itu, penanganan satwa liar yang terdampak kebakaran menjadi kewenangan BKSDA Kalimantan Tengah dan pengelola Taman Nasional Sebangau.
Meski demikian, Ganjar menyatakan pihaknya siap membantu penanganan medis apabila terdapat satwa liar terluka yang masuk ke kawasan permukiman.
Jika kabut asap berlangsung lama, dinas menyiapkan langkah lanjutan berupa pengoperasian mobile clinic atau layanan kesehatan hewan keliling, penyediaan stok obat, serta pembagian vitamin gratis. Upaya tersebut diharapkan memperluas akses pelayanan bagi pemilik hewan dan peternak di wilayah terdampak.
Ganjar menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam mendeteksi gangguan kesehatan hewan sejak dini. Di tengah minimnya data kasus ISPA pada hewan, peningkatan kesadaran pemilik dan pelaporan yang lebih aktif menjadi bagian penting agar potensi dampak karhutla tidak terabaikan.(TESTI PRISCILLA/R)









