BORNEONEWS, Palangka Raya – Upaya merawat bahasa dan sastra dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga nalar, identitas, dan peradaban bangsa di tengah derasnya arus globalisasi serta disrupsi digital. Bahasa tidak sekadar menjadi alat komunikasi, tetapi juga mencerminkan budi pekerti dan jiwa suatu bangsa.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Palangka Raya, Muhamad Setiadi Hidayat, menyampaikan hal tersebut dalam sambutannya pada pembukaan Semarak Bulan Bahasa dan Sastra Tahun 2026 di Palangka Raya, Senin, 26 Oktober 2026.
Menurut Setiadi, Oktober memiliki makna historis yang sangat penting dalam perjalanan bangsa Indonesia. Pada bulan ini, masyarakat Indonesia kembali memperingati Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak persatuan nasional, termasuk melalui ikrar menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.
“Bulan Oktober memiliki makna historis yang sangat monumental bagi perjalanan bangsa kita. Sembilan puluh delapan tahun yang lalu, melalui peristiwa Sumpah Pemuda, telah diikrarkan sebuah konsensus besar, menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia,” kata Setiadi Hidayat.
Ia menegaskan, bahasa memiliki kedudukan yang jauh lebih luas daripada sekadar sarana menyampaikan pesan. Bahasa menjadi cermin budi pekerti, identitas, peradaban, sekaligus jiwa sebuah bangsa yang harus dijaga keberlangsungannya.
Setiadi menilai tantangan pelestarian bahasa dan sastra semakin besar di tengah perkembangan zaman. Globalisasi dan disrupsi digital membawa perubahan terhadap cara masyarakat berkomunikasi, mengakses informasi, serta menggunakan bahasa dalam kehidupan sehari-hari.
Di tengah perubahan tersebut, menurutnya, upaya menjaga bahasa dan sastra tidak boleh dipandang sebagai kegiatan seremonial semata. Pelestarian keduanya berkaitan erat dengan kemampuan masyarakat mempertahankan kedalaman berpikir, memahami makna, serta menjaga nilai-nilai yang membentuk karakter bangsa.
“Di tengah gempuran globalisasi dan disrupsi digital yang sering kali membawa arus pendangkalan makna, upaya merawat bahasa dan sastra adalah upaya merawat nalar,” katanya.
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa perkembangan teknologi perlu diimbangi dengan kesadaran menggunakan bahasa secara baik dan bermakna. Bahasa dan sastra memiliki peran dalam membangun cara berpikir sekaligus mewariskan nilai budaya kepada generasi berikutnya.
Semarak Bulan Bahasa dan Sastra Tahun 2026 diselenggarakan Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah di Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Kalteng, Jalan Tjilik Riwut Kilometer 4,5, Palangka Raya. Kegiatan tersebut menghadirkan berbagai pertunjukan, antara lain karungut, monolog terapung, mendongeng, deklamasi puisi, dan musikalisasi puisi.
Selain pertunjukan seni dan sastra, kegiatan ini juga diisi pemberian apresiasi kepada lembaga pendidikan, lembaga pemerintah dan swasta, serta penerima Apresiasi Krida Duta Bahasa. Rangkaian kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat perhatian terhadap bahasa dan sastra dalam kehidupan masyarakat. (TESTI PRISCILLA)









