BORNEONEWS, Palangka Raya – Biaya distribusi menjadi salah satu tantangan dalam menjaga harga beras premium di Kalimantan Tengah tetap terjangkau. Tanpa dukungan subsidi ongkos angkut, harga beras yang didatangkan dari Makassar, Sulawesi Selatan, berpotensi menembus Rp15.700 per kilogram atau melampaui Harga Eceran Tertinggi atau HET yang ditetapkan sebesar Rp15.400 per kilogram.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Tengah, Yuliansah Andrias, mengatakan penguatan pasokan dan keterjangkauan harga beras menjadi perhatian Tim Pengendalian Inflasi Daerah atau TPID, mengingat komoditas tersebut turut mendorong tekanan inflasi di daerah.

Karena itu, BI bersama Perum Bulog dan pemerintah daerah menjalankan fasilitasi distribusi pangan untuk memperlancar pasokan dari daerah penghasil ke Kalimantan Tengah. Langkah ini diharapkan dapat menekan beban biaya angkut sehingga harga jual beras kepada masyarakat tetap terkendali.

“Inflasi Kalimantan Tengah masih relatif agak tinggi, khususnya dipicu oleh harga beras. Karena itu, kita melakukan aksi untuk memastikan ketersediaan dan keterjangkauan harga,” ujar Yuliansah dalam kegiatan Penguatan Pasokan dan Distribusi Beras TPID Provinsi Kalteng di Gudang Bulog Palangka Raya baru-baru ini.

Sementara itu, Pemimpin Wilayah Perum Bulog Kalteng, Erwin Budiana, menjelaskan bantuan biaya distribusi dari BI memungkinkan Bulog menjual beras premium sesuai HET. Pasalnya, harga beras di daerah asal sudah mencapai Rp14.800 per kilogram, belum termasuk biaya pengiriman yang diperkirakan berkisar Rp800 hingga Rp900 per kilogram.

“Kalau ditambah biaya distribusi, harganya di sini akan mencapai Rp15.600 atau Rp15.700 per kilogram. Itu akan melebihi ketentuan HET. Alhamdulillah, dengan adanya bantuan biaya distribusi dari Bank Indonesia, kami bisa menjual sesuai HET,” kata Erwin pada Selasa, 27 Oktober 2026.

Dalam program tersebut, Bulog menyiapkan total 150 ton beras premium untuk tiga wilayah. Kota Palangka Raya mendapatkan alokasi 75 ton, Kabupaten Kapuas 25 ton, dan Kabupaten Kotawaringin Timur sebanyak 50 ton.

Khusus di Palangka Raya, penyaluran diprioritaskan ke pasar-pasar yang menjadi lokasi pencatatan inflasi, yakni Pasar Kahayan dan Pasar Besar, serta melalui kantor Bulog. Beras dipasarkan dengan harga Rp15.400 per kilogram atau maksimal Rp77.000 untuk kemasan lima kilogram, sesuai keterangan Erwin.

Yuliansah menegaskan, fasilitasi distribusi merupakan bagian dari upaya menjaga agar selisih harga di daerah asal dan daerah tujuan tidak semakin membebani konsumen. Menurutnya, kelancaran distribusi perlu didukung koordinasi antarlembaga, terutama karena kondisi geografis Kalimantan Tengah yang luas dan jarak antardaerah yang relatif jauh.

Erwin mengakui pasokan beras premium berpotensi cepat terserap pasar. Bulog berharap stok tersebut dapat memenuhi kebutuhan masyarakat hingga November. Namun, apabila persediaan habis lebih awal, Bulog akan melakukan pemesanan kembali untuk menjaga kesinambungan pasokan.

“Harapannya bisa memenuhi kebutuhan masyarakat sampai November. Walaupun misalnya Oktober sudah habis, kami akan melakukan pemesanan kembali,” ujarnya.

Sinergi BI, Bulog, dan pemerintah daerah ini diharapkan tidak hanya menjaga ketersediaan beras, tetapi juga mencegah biaya distribusi menjadi pemicu tambahan kenaikan harga. Dengan pasokan yang lancar dan harga yang sesuai ketentuan, daya beli masyarakat diharapkan tetap terjaga di tengah tekanan inflasi pangan di Kalimantan Tengah.(TESTI PRISCILLA)