PALANGKA RAYA – BORNEONEWS, Lombok Tengah – Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebut Indonesia dan India sebagai dua negara di dunia yang membuka informasi kepemilikan saham kepada publik untuk pemegang saham dengan porsi kepemilikan di atas 1 persen.

"Kami sudah menyampaikan kepada publik nama pemegang saham di atas 1 persen. Di dunia ini hanya Indonesia dan India yang melakukan itu," kata Direktur Utama BEI Jeffery Hendrik dalam lokakarya bertajuk Transformasi Berkelanjutan untuk Pasar Modal Terpercaya dan Tangguh di Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sabtu (31/10/2026).

Jeffery menjelaskan, kebijakan tersebut merupakan bagian dari reformasi pasar modal Indonesia yang bertujuan meningkatkan transparansi dan kepercayaan investor.

Selain mengungkap nama pemegang saham, BEI juga menambahkan informasi mengenai hubungan afiliasi antarpemegang saham. Dengan demikian, investor dapat mengetahui apakah pemegang saham tertentu memiliki keterkaitan dengan pemegang saham lainnya.

Ia menegaskan, BEI terus berupaya meningkatkan kualitas data yang disampaikan kepada publik agar memberikan gambaran lebih lengkap mengenai struktur kepemilikan emiten di pasar modal Indonesia.

"Sebelumnya hanya nama pemegang sahamnya, kemudian berikutnya kami tambahkan informasi atas klasifikasi investornya. Ke depan, kami tambahkan lagi apakah nama itu terafiliasi atau tidak terafiliasi untuk meningkatkan kualitas dari transparansi tersebut," ujarnya.

Lebih lanjut, Jeffery menyampaikan bahwa BEI juga meningkatkan granularitas data investor. Klasifikasi investor yang sebelumnya terdiri atas sembilan kategori kini diperluas menjadi 39 kategori.

Selain itu, BEI mengumumkan saham-saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration sebagai informasi tambahan bagi investor dalam mengambil keputusan investasi.

Melalui berbagai langkah tersebut, BEI berharap transparansi pasar modal Indonesia semakin meningkat sehingga dapat memperkuat kepercayaan investor, baik domestik maupun asing.

SUMBER: ANTARA