BORNEONEWS, Jakarta - Kementerian Luar Negeri (Kemlu) memastikan tengah melakukan verifikasi terhadap informasi viral di media sosial soal tewasnya warga negara Indonesia (WNI) yang diduga bergabung dalam dinas militer Rusia usai diterjunkan berperang di Ukraina.
“KBRI Moskow tengah melakukan pendalaman dan verifikasi, termasuk terkait identitas dan status yang bersangkutan,” kata Juru Bicara Kemlu RI Yvonne Mewengkang melalui pesan tertulis kepada ANTARA di Jakarta, Ahad.
Ia memastikan bahwa seluruh proses yang berjalan dilakukan dengan mengedepankan prinsip pelindungan data pribadi.
Dengan demikian, masyarakat diimbau agar tidak berspekulasi terkait persoalan tersebut sebelum hasil verifikasi dapat ditetapkan, kata dia.
Mengingat terus berulangnya kejadian WNI bergabung ke dinas militer Rusia, Kemlu RI terus berkoordinasi dengan KBRI Moskow dan pihak terkait untuk memastikan langkah penanganan dan pelindungan WNI sesuai ketentuan yang berlaku.
Koordinasi juga dijalankan untuk mendalami kemungkinan penipuan dan eksploitasi dalam proses perekrutan yang terjadi, ucap Jubir Kemlu RI.
Yvonne pun mengimbau masyarakat agar senantiasa berhati-hati saat menerima tawaran pekerjaan di luar negeri, salah satunya dengan memverifikasi keabsahan tawaran pekerjaan melalui instansi berwenang.
Selan itu, WNI diimbau agar mewaspadai tawaran pekerjaan dengan imbalan yang tidak wajar atau terlampau optimistis serta tidak menandatangani kontrak yang tidak dipahami.
“WNI juga diminta memperhatikan risiko keselamatan dan konsekuensi hukum apabila terlibat dalam dinas militer asing,” kata Yvonne.
Pernyataan dari Jubir Kemlu RI itu disampaikan untuk merespons informasi yang beredar soal tewasnya seorang WNI yang diduga direkrut militer Rusia untuk berperang di Ukraina.
Menurut informasi Dinas Intelijen Pertahanan Ukraina (HUR) yang disiarkan di media sosial pada 27 Oktober, WNI tersebut berinisial MT, lahir pada 1978 dan sebelumnya bekerja sebagai supir taksi di Jakarta. Ia disebut telah dikontrak bekerja selama setahun untuk militer Rusia, tetapi tewas sepekan usai diterjunkan di medan tempur di Ukraina.
Terkait hal tersebut, Direktur Jenderal (Dirjen) Imigrasi Hendarsam Marantoko menyatakan akan memperketat pengawasan dari hulu guna mencegah WNI menjadi korban TPPO hingga direkrut menjadi tentara bayaran di Rusia.
Ia memastikan Dirjen Imigrasi juga akan meningkatkan patroli siber berbasis teknologi, yakni meningkatkan keandalan teknologi imigrasi untuk memantau dan memblokir iklan-iklan perekrutan tenaga kerja ilegal yang masif beredar di media sosial.
SUMBER: ANTARA









