BORNEONEWS, Moskow – Pemerintah Sudan menuding negara-negara Uni Eropa memanfaatkan isu krisis kemanusiaan di negara tersebut untuk kepentingan politik di tengah konflik bersenjata yang masih berlangsung.
Menteri Luar Negeri Sudan, Mohi El-Din Salem, mengatakan negara-negara Eropa kerap menyoroti kondisi kemanusiaan dan ancaman kelaparan di Sudan dengan cara yang dinilai membentuk persepsi negatif terhadap situasi di negara itu.
Pernyataan tersebut disampaikan Salem kepada RIA Novosti dan diberitakan dari Moskow, Minggu, 1 November 2026.
Menurut Salem, pemerintah Sudan tidak menampik bahwa kondisi kemanusiaan di negaranya saat ini memang sulit. Namun, ia menilai persoalan tersebut kerap digunakan sebagai instrumen untuk mencapai kepentingan politik tertentu.
Ia juga menuding pendekatan serupa digunakan dalam menyoroti sejumlah negara lain, termasuk Rusia dan China.
Salem menilai kasus-kasus tertentu sering digeneralisasi sehingga memunculkan kesan bahwa negara-negara Barat merupakan pihak yang paling konsisten dalam membela hak asasi manusia.
Di sisi lain, ia menyinggung situasi di Jalur Gaza dan sejumlah wilayah lain yang juga mengalami persoalan kemanusiaan serius.
Meski menyampaikan kritik terhadap Uni Eropa, Salem mengatakan pemerintah Sudan tetap terbuka terhadap bantuan dan upaya kemanusiaan dari berbagai pihak.
Menurutnya, dukungan tersebut dapat diterima selama dijalankan sesuai hukum humaniter internasional dan ketentuan hukum internasional yang berlaku.
Sudan hingga kini masih menghadapi konflik bersenjata yang berlangsung sejak April 2023.
Pertempuran melibatkan Pasukan Dukungan Cepat atau Rapid Support Forces (RSF) yang dipimpin Mohamed Hamdan Dagalo dengan tentara reguler Sudan.
Konflik berkepanjangan tersebut telah menimbulkan banyak korban dari kalangan sipil, merusak berbagai infrastruktur dan memicu gelombang pengungsian dalam skala besar.
Situasi tersebut juga memperburuk kondisi kemanusiaan masyarakat Sudan, terutama dalam pemenuhan kebutuhan pangan, layanan kesehatan dan perlindungan warga sipil.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti/ANTARA









