BORNEONEWS, Moskow – Gelombang demonstrasi menentang kenaikan biaya hidup di Prancis kembali memanas setelah sedikitnya 64 orang dilaporkan terluka dalam aksi yang berlangsung pada Sabtu, 31 Oktober 2026.
Mengutip laporan Le Figaro berdasarkan data layanan darurat, sebanyak 60 demonstran mengalami luka ringan, sedangkan empat lainnya berada dalam kondisi serius.
Aksi tersebut menjadi bagian dari rangkaian demonstrasi yang berlangsung selama tiga Sabtu berturut-turut di berbagai wilayah Prancis.
Ratusan ribu warga dilaporkan ikut turun ke jalan untuk menyuarakan ketidakpuasan terhadap meningkatnya biaya hidup dan berbagai persoalan sosial lainnya.
Gelombang protes awalnya muncul sejak pertengahan September 2026 ketika pelajar sekolah menengah atas dan mahasiswa menggelar aksi di kawasan pinggiran Paris.
Para pelajar menuntut perbaikan sistem pendidikan dan kondisi sekolah.
Gerakan tersebut kemudian berkembang setelah kelompok masyarakat lain yang terdampak kenaikan harga ikut bergabung dalam demonstrasi.
Aksi protes pun meluas ke berbagai wilayah di Prancis dan tidak lagi terbatas pada isu pendidikan.
Demonstrasi terbesar sejauh ini berlangsung pada Sabtu, 17 Oktober 2026.
Berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri Prancis, sekitar 550.000 orang berpartisipasi dalam aksi tersebut.
Gelombang demonstrasi yang terus berlangsung menunjukkan meningkatnya tekanan sosial di Prancis, terutama terkait tingginya biaya hidup dan ketidakpuasan masyarakat terhadap kondisi ekonomi.
Hingga kini, aksi protes masih menjadi perhatian karena besarnya jumlah massa yang terlibat dan munculnya korban luka dalam sejumlah demonstrasi.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti/ANTARA









