BORNEONEWS, Moskow – Organisasi Pendidikan, Keilmuan dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNESCO mencatat 189 jurnalis, pekerja media dan pembuat konten yang terlibat dalam kegiatan jurnalistik gugur di berbagai negara sepanjang 2024 hingga 2025.
Angka tersebut meningkat sekitar 20 persen dibandingkan periode sebelumnya. UNESCO juga menyebut jumlah kematian jurnalis pada 2025 menjadi yang tertinggi dalam delapan tahun terakhir.
Berdasarkan laporan yang dirilis Senin, 2 November 2026, sebagian besar kematian terjadi di wilayah konflik bersenjata.
“Dari 1 Januari 2024 hingga 31 Desember 2025, UNESCO mencatat 189 jurnalis, pekerja media, dan pembuat konten media sosial yang terlibat dalam kegiatan jurnalistik di seluruh dunia gugur, naik 20 persen dibanding periode sebelumnya,” demikian isi laporan UNESCO.
Sebanyak 127 kasus atau sekitar 67 persen dari total kematian jurnalis tercatat terjadi di negara-negara yang menghadapi konflik bersenjata.
Jumlah tersebut meningkat 24 persen dalam dua tahun terakhir.
UNESCO mencatat kawasan negara-negara Arab menjadi wilayah dengan jumlah kematian jurnalis tertinggi, yakni 97 orang.
Sementara di kawasan Amerika Latin dan Karibia tercatat 37 jurnalis gugur.
Palestina menjadi wilayah dengan jumlah korban terbanyak dengan sedikitnya 62 pekerja media dilaporkan kehilangan nyawa.
Selain itu, sebanyak 12 jurnalis tercatat tewas di Ukraina dan dua lainnya di Federasi Rusia selama periode yang sama.
Laporan UNESCO juga menyoroti meningkatnya penggunaan pesawat nirawak atau drone dalam konflik bersenjata.
Berdasarkan data yang tersedia, sekitar 40 persen kematian jurnalis di zona konflik dikaitkan dengan serangan drone.
Sedikitnya 50 jurnalis dilaporkan gugur akibat serangan drone di enam negara sepanjang 2024 hingga 2025.
Di sisi lain, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova mengkritik laporan tersebut karena menilai sejumlah nama jurnalis Rusia yang tewas dalam konflik tidak tercantum.
Ia menyebut sejumlah jurnalis Rusia yang menurut Moskow tewas akibat serangan pihak Ukraina kembali tidak dimasukkan dalam laporan terbaru mengenai keselamatan jurnalis.
Peningkatan jumlah korban menunjukkan besarnya risiko yang dihadapi pekerja media dalam menjalankan tugas jurnalistik, terutama di wilayah konflik bersenjata.
UNESCO Catat 189 Jurnalis Gugur pada 2024-2025, Mayoritas di Wilayah Konflik
BORNEONEWS, Moskow – Organisasi Pendidikan, Keilmuan dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNESCO mencatat 189 jurnalis, pekerja media dan pembuat konten yang terlibat dalam kegiatan jurnalistik gugur di berbagai negara sepanjang 2024 hingga 2025.
Angka tersebut meningkat sekitar 20 persen dibandingkan periode sebelumnya. UNESCO juga menyebut jumlah kematian jurnalis pada 2025 menjadi yang tertinggi dalam delapan tahun terakhir.
Berdasarkan laporan yang dirilis Senin, 2 November 2026, sebagian besar kematian terjadi di wilayah konflik bersenjata.
“Dari 1 Januari 2024 hingga 31 Desember 2025, UNESCO mencatat 189 jurnalis, pekerja media, dan pembuat konten media sosial yang terlibat dalam kegiatan jurnalistik di seluruh dunia gugur, naik 20 persen dibanding periode sebelumnya,” demikian isi laporan UNESCO.
Sebanyak 127 kasus atau sekitar 67 persen dari total kematian jurnalis tercatat terjadi di negara-negara yang menghadapi konflik bersenjata.
Jumlah tersebut meningkat 24 persen dalam dua tahun terakhir.
UNESCO mencatat kawasan negara-negara Arab menjadi wilayah dengan jumlah kematian jurnalis tertinggi, yakni 97 orang.
Sementara di kawasan Amerika Latin dan Karibia tercatat 37 jurnalis gugur.
Palestina menjadi wilayah dengan jumlah korban terbanyak dengan sedikitnya 62 pekerja media dilaporkan kehilangan nyawa.
Selain itu, sebanyak 12 jurnalis tercatat tewas di Ukraina dan dua lainnya di Federasi Rusia selama periode yang sama.
Laporan UNESCO juga menyoroti meningkatnya penggunaan pesawat nirawak atau drone dalam konflik bersenjata.
Berdasarkan data yang tersedia, sekitar 40 persen kematian jurnalis di zona konflik dikaitkan dengan serangan drone.
Sedikitnya 50 jurnalis dilaporkan gugur akibat serangan drone di enam negara sepanjang 2024 hingga 2025.
Di sisi lain, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova mengkritik laporan tersebut karena menilai sejumlah nama jurnalis Rusia yang tewas dalam konflik tidak tercantum.
Ia menyebut sejumlah jurnalis Rusia yang menurut Moskow tewas akibat serangan pihak Ukraina kembali tidak dimasukkan dalam laporan terbaru mengenai keselamatan jurnalis.
Peningkatan jumlah korban menunjukkan besarnya risiko yang dihadapi pekerja media dalam menjalankan tugas jurnalistik, terutama di wilayah konflik bersenjata.
Sumber: ANTARA









