**Borneonews - Palu**, Kabupaten Morowali Utara yang terletak di Sulawesi Tengah baru saja menerima dana insentif dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu) sebesar lebih dari Rp5,8 miliar. Pemberian dana ini merupakan pengakuan atas kinerja kabupaten tersebut dalam menekan angka prevalensi *stunting* atau kondisi gagal tumbuh pada anak.
Bupati Morowali Utara, Delis J Hehi, mengemukakan bahwa dana insentif ini akan digunakan secara khusus untuk menangani masalah *stunting* sekaligus untuk pembangunan daerah secara keseluruhan. Dalam keterangan tertulisnya yang diterima pada Jumat, ia menyebutkan bahwa pengalokasian dana ini sangat penting untuk upaya perbaikan gizi masyarakat.
Berdasarkan data yang dimuat dalam aplikasi elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (*e-PPGBM*), prevalensi *stunting* di Kabupaten Morowali Utara pada tahun 2023 tercatat sebesar 14,4 persen. Namun, angka ini menunjukkan penurunan menjadi 13,89 persen pada hasil pengukuran yang dilakukan hingga Juni 2024. Selain itu, data dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan pada tahun 2023 menunjukkan angka lebih tinggi, yaitu sekitar 24,7 persen.
Delis menegaskan bahwa semua dinas, badan, dan pelaksana teknis seperti rumah sakit umum daerah (RSUD), puskesmas, camat, serta kepala desa diinstruksikan untuk secara serius mencegah dan menurunkan kadar *stunting* di wilayah tersebut. "Kami telah mengarahkan semua pihak untuk fokus pada penanganan masalah ini," tuturnya.
Pemberian insentif tersebut diserahkan dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Percepatan Penurunan Stunting (PPS) tahun 2024 yang berlangsung di Jakarta pada hari Rabu, 4 September. Kabupaten Morowali Utara berhasil masuk dalam lima besar daerah yang berhasil menurunkan prevalensi *stunting* di Provinsi Sulawesi Tengah, bersaing dengan Kabupaten Buol, Donggala, Morowali, dan Tolitoli.
Dana insentif sebesar Rp5,8 miliar tersebut tercantum dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor 353 tahun 2024 yang ditandatangani oleh Menkeu Sri Mulyani Indrawati. Delis menekankan komitmennya untuk mengimplementasikan langkah-langkah intervensi yang diperlukan, menegaskan bahwa penanganan *stunting* tidak dapat dilakukan oleh satu instansi saja. Kerja sama seluruh pihak akan sangat dibutuhkan untuk menciptakan generasi balita yang sehat.
"Sekitar 8.311 balita yang terdampak *stunting* telah diukur berat dan tingginya oleh 14 puskesmas yang ada di Morowali Utara. Kami akan memaksimalkan penggunaan dana insentif ini untuk program-program prioritas daerah," ungkap Delis, menegaskan pentingnya upaya ini bagi masa depan anak-anak di wilayahnya.
ANTARA
Morowali Utara Terima Dana Insentif Rp5,8 M untuk Penanganan Stunting
Bagikan:

PALU –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Pemkab Murung Raya Gelar Pelatihan untuk Penanganan Stunting di 1.000 Hari Pertama Kehidupan
Rembuk Stunting di Pasak Talawang Bahas Sinergi Penanganan Stunting
Program Prioritas DP3AP2KB Pulang Pisau 2025: Penanganan Stunting, Pemberdayaan Perempuan, dan Ketahanan Keluarga
17 Kelurahan di Palangka Raya Jadi Prioritas Penanganan Stunting
Disdalduk KBP3A Barito Utara Adakan Pertemuan Audit Kasus Stunting
Audit Kasus Stunting 2 Kali Setahun di Barito Utara
Komentar (0)
Memuat komentar…







