BORNEONEWS, Tamiang Layang – Kabar baik bagi sektor pertanian Kabupaten Barito Timur (Bartim), Kalimantan Tengah. Usulan perluasan jaringan irigasi tersier di wilayah pengairan Bendung Karau dengan nilai mencapai Rp38 miliar telah mendapat persetujuan Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III. Pembangunannya direncanakan mulai direalisasikan pada 2027.

Bupati Barito Timur M. Yamin mengungkapkan hal tersebut, Jumat, 30 Oktober 2026. Ia menjelaskan, persetujuan itu merupakan hasil pertemuan dan koordinasi dengan jajaran BWS Kalimantan III di Banjarmasin pada Selasa, 27 Oktober 2026.

"Pada pertemuan dengan BWS Kalimantan III, usulan perluasan jaringan irigasi tersier di wilayah pengairan Bendung Karau senilai Rp38 miliar sudah mendapat persetujuan. Rencananya mulai direalisasikan pada 2027 dan berlanjut pada tahun-tahun berikutnya," ungkap Yamin.

Pertemuan tersebut dihadiri langsung Kepala BWS Kalimantan III, Sandi Erryanto, beserta sejumlah pejabat dan staf. Pembahasan mencakup perkembangan usulan kegiatan bidang sumber daya air untuk Barito Timur melalui BWS Kalimantan III, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum.

Menurut Yamin, perluasan jaringan irigasi tersier tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah memperkuat infrastruktur pertanian, khususnya dalam mendukung ketersediaan air bagi lahan pertanian di kawasan Bendung Karau.

Ia berharap pembangunan jaringan irigasi itu nantinya memberikan manfaat langsung bagi para petani. Dengan dukungan pengairan yang lebih memadai, lahan pertanian di wilayah tersebut diharapkan dapat dikelola secara lebih optimal sehingga produktivitas hasil panen meningkat.

"Kami berterima kasih kepada BWS Kalimantan III atas dukungan dan persetujuan terhadap usulan ini. Harapan kami, pembangunan tersebut dapat memperkuat sektor pertanian dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya para petani," katanya.

Yamin juga mengingatkan agar masyarakat, terutama petani yang berada di sekitar wilayah pengairan Bendung Karau, nantinya dapat memanfaatkan serta menjaga jaringan irigasi tersebut dengan baik.

Menurutnya, keberadaan infrastruktur pengairan tidak hanya berkaitan dengan kelancaran distribusi air ke lahan pertanian, tetapi juga memiliki peran penting dalam mendukung ketahanan pangan dan pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Dengan rencana pembangunan yang dimulai pada 2027 dan dilanjutkan pada tahun-tahun berikutnya, perluasan jaringan irigasi tersier senilai Rp38 miliar tersebut diharapkan menjadi salah satu investasi infrastruktur pertanian yang memberikan manfaat berkelanjutan bagi Kabupaten Barito Timur. (AGUSTINUS BOLE MALO/H)