BORNEONEWS, Jakarta – Menteri Agama Nasaruddin Umar berharap pesantren di Indonesia mampu menghidupkan kembali tradisi keilmuan seperti yang berkembang di Baitul Hikmah, pusat pengembangan ilmu pengetahuan pada masa kejayaan peradaban Islam.
"Kalau perlu Baitul Hikmah akan bangkit kembali di lingkungan pondok pesantren di Indonesia," ujar Menag dalam kegiatan Munajat Santri untuk Negeri yang digelar di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat 30 Oktober 2026.
Nasaruddin mengatakan, Baitul Hikmah merupakan salah satu contoh penting keberhasilan lembaga pendidikan Islam dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, penelitian, serta kolaborasi para ilmuwan dari berbagai latar belakang.
Ia menjelaskan, Baitul Hikmah didirikan pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid pada 786 Masehi dan kemudian dikembangkan oleh putranya, Khalifah Al-Ma'mun, pada 813 Masehi.
Tradisi keilmuan yang berkembang di lembaga tersebut melahirkan banyak ilmuwan yang memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan peradaban dunia. Di antaranya Jabir bin Hayyan dalam bidang kimia, Al-Khawarizmi dalam matematika, Ibnu Haitsam dalam optika, Ibnu Sina dalam kedokteran, serta Al-Razi dalam pengembangan ilmu kedokteran.
Selain itu, terdapat Ibnu Rusyd yang dikenal menguasai berbagai disiplin ilmu, mulai dari kedokteran, filsafat, hingga fikih.
Menurut Menag, kiprah para ilmuwan tersebut menunjukkan bahwa penguasaan ilmu pengetahuan tidak seharusnya dibatasi pada satu bidang keilmuan saja.
Ia juga menyoroti keterbukaan tradisi pendidikan di Baitul Hikmah yang mempertemukan ilmuwan Muslim, Kristen, Yahudi, Hindu, dan kelompok lainnya dalam satu lingkungan pembelajaran dan penelitian.
"Di dalam satu majelis mereka mendirikan laboratorium. Nah, ini yang dilakukan di abad pertengahan," katanya.
Menag menilai, tradisi tersebut perlu menjadi inspirasi bagi pesantren di Indonesia untuk mengembangkan sistem pendidikan yang terbuka terhadap kemajuan ilmu pengetahuan serta mendorong kolaborasi lintas disiplin.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa tantangan pesantren saat ini bukan hanya mempertahankan tradisi pendidikan agama, tetapi juga mempersiapkan para santri agar mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
Imam Besar Masjid Istiqlal itu berharap semakin banyak santri yang kelak menjadi ilmuwan, dokter, insinyur, pengusaha, ahli teknologi, pemimpin masyarakat, hingga pemimpin bangsa. "Zaman telah berubah, tetapi semangat pengabdian tidak boleh berubah," ujarnya.
SUMBER: ANTARA









