BORNEONEWS, Jakarta – Menteri Transmigrasi (Mentrans) M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menegaskan penerapan teknologi di kawasan transmigrasi harus sesuai kebutuhan masyarakat dan mampu meningkatkan produktivitas serta pendapatan warga.

Menurut Iftitah, program transmigrasi kini tidak sekadar memindahkan penduduk, tetapi juga membangun kawasan ekonomi melalui inovasi dan pemberdayaan masyarakat.

Salah satu penerapannya terlihat di Distrik Oransbari, Kawasan Transmigrasi Momiwaren, Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat. Tim Ekspedisi Patriot Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menghadirkan mesin pengering gabah berkapasitas dua ton yang mampu memangkas waktu pengeringan dari tiga hingga tujuh hari menjadi belasan jam.

Teknologi tersebut didukung Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk mengatasi keterbatasan pasokan listrik. Inovasi ini membantu petani mempercepat penanganan hasil panen sekaligus mengurangi ketergantungan pada penjemuran manual.

Pengolahan pascapanen juga meningkatkan nilai jual beras. Beras utuh hasil pemilahan dapat dijual Rp15.000 hingga Rp17.000 per kilogram, lebih tinggi dibandingkan harga sebelumnya sekitar Rp12.000 per kilogram.

Sementara itu, beras menir yang sebelumnya dijual sebagai pakan ternak seharga Rp8.000 hingga Rp9.000 per kilogram kini diolah menjadi tepung beras dengan harga jual sekitar Rp18.000 per kilogram.

Pengolahan tepung beras dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) untuk memasok kebutuhan UMKM, termasuk produsen peyek dan kue. Usaha tersebut juga telah memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB).

Selain teknologi pengolahan padi, Tim Ekspedisi Patriot ITS mengembangkan sejumlah inovasi untuk sektor pertanian, perikanan, dan kebutuhan dasar masyarakat.

Inovasi tersebut meliputi reaktor biogas dengan hasil samping pupuk organik cair sekitar 50 liter per hari, teknologi pengasapan ikan yang memangkas waktu produksi dari dua hari menjadi maksimal dua jam, serta instalasi pompa air bersih yang melayani 35 keluarga.

Tim juga mengembangkan situs promosi dan aplikasi administrasi BUMDes untuk mendukung pemasaran produk serta pengelolaan usaha desa.

Iftitah berharap penerapan teknologi tepat guna tersebut dapat memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat transmigrasi, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan nilai tambah produk lokal.

Sementara itu, Rektor ITS Bambang Pramujati mengatakan keterlibatan perguruan tinggi melalui Tim Ekspedisi Patriot menjadi sarana bagi mahasiswa dan dosen untuk menerapkan ilmu pengetahuan dalam menjawab persoalan masyarakat.

ITS melibatkan 100 mahasiswa, 20 tim, dan 20 dosen yang tersebar di tiga distrik. Perguruan tinggi tersebut juga menyatakan kesiapan melanjutkan pengabdian masyarakat melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik.

SUMBER: ANTARA