BORNEONEWS, Sampit – Hujan yang mulai mengguyur sejumlah wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dalam beberapa hari terakhir membuat petani bersiap kembali mengolah lahan. Meski demikian, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kotim mengingatkan petani agar tidak terburu-buru memulai penanaman sebelum kondisi tanah dan ketersediaan air benar-benar mencukupi.

"Petani memang sudah mulai bersiap, tetapi harus benar-benar melihat situasi cuaca. Hujan satu atau dua kali belum bisa menjadi dasar untuk langsung mengolah lahan dan mulai bertanam," kata Kepala DPKP Kotim, Yephi Hartady Periyanto, Sabtu, 31 Oktober 2026.

Yephi mengatakan, informasi mengenai rencana petani kembali mengolah lahan mulai diterima melalui penyuluh pertanian lapangan (PPL). Pengajuan dalam sejumlah program pertanian, seperti optimalisasi lahan (oplah), juga mulai kembali diaktifkan.

Namun, intensitas hujan yang turun sejauh ini dinilai belum cukup untuk memastikan kondisi lahan siap ditanami. Curah hujan masih relatif ringan sehingga belum mampu membasahi tanah dan memenuhi kebutuhan air pada saluran pertanian secara memadai.

Menurutnya, petani perlu memastikan kelembapan tanah serta ketersediaan air sebelum memulai proses tanam. Jika hanya mengandalkan hujan yang turun sesekali, dikhawatirkan air tidak mencukupi untuk mendukung pertumbuhan tanaman.

Di sisi lain, Yephi menyebut sarana dan prasarana pendukung pertanian di sejumlah lokasi telah dipersiapkan untuk menghadapi musim tanam. Salah satunya melalui pengoperasian irigasi perpompaan yang sebelumnya telah dipasang.

Ia menjelaskan, upaya pembasahan lahan tidak hanya bergantung pada hujan alami, tetapi juga didukung pemanfaatan teknologi. Sistem irigasi perpompaan menjadi salah satu cara untuk menjaga ketersediaan air ketika curah hujan belum mencukupi.

Sejumlah lokasi seperti Desa Regei Lestari dan beberapa titik di Lampuyang telah merasakan manfaat pengairan dari sumur irigasi perpompaan. Pembasahan lahan tersebut mulai mendorong petani setempat mempersiapkan kegiatan pengolahan tanah.

"Jadi pembasahan lahan ini bukan cuma mengandalkan kondisi dari alam, tapi juga kita merekayasa teknologi salah satunya irigasi perpompaan. Itu sudah mulai bisa di daerah Regei Lestari dan di beberapa titik di Lampuyang. Itu sudah hasil pembasahan dari sumur irigasi pompa ini kemarin itu sudah membuat masyarakat mempersiapkan diri untuk proses olah lahan," ujarnya.

Lebih lanjut, kemarau panjang yang melanda Kotim menyebabkan musim tanam ke tiga tahun ini mengalami pergeseran. Periode tanam yang biasanya dimulai Oktober kini diperkirakan baru berjalan pada November.

Pelaksanaan penanaman juga tidak akan dilakukan serentak sebagian petani diperkirakan mulai melakukan penanaman pada Desember.

"Kami menyakini, yang namanya penanaman juga tidak langsung serempak, ini nanti juga bergilir, jadi estafet sifatnya. Tidak dalam artian bulan November semua langsung menanan, petani juga nanti ada yang baru bertanam di Desember," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI)