JAKARTA – BORNEONEWS, Kudus – Harga kedelai impor di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, naik menjadi Rp11.500 per kilogram (kg) pada pekan ini dari sebelumnya Rp10.000 per kg. Kenaikan tersebut dipicu menipisnya stok di pasaran serta meningkatnya biaya impor.
Manajer Primer Koperasi Tahu-Tempe Indonesia (Primkopti) Kabupaten Kudus, Amar Ma'ruf, mengatakan kenaikan harga berlangsung bertahap selama dua bulan terakhir.
Menurutnya, kenaikan dipengaruhi penguatan nilai tukar dolar terhadap rupiah dan meningkatnya indeks harga. Selain itu, penurunan produksi di negara asal juga diduga menyebabkan pasokan kedelai impor semakin terbatas.
Amar memperkirakan harga masih berpotensi naik karena pasokan dari pemasok besar di Semarang mulai berkurang dan belum ada tambahan stok.
Saat ini, persediaan kedelai di gudang hanya sekitar 40 ton, sedangkan kebutuhan pengrajin tahu dan tempe di Kudus mencapai rata-rata 20 ton per hari. Dengan demikian, stok yang tersedia diperkirakan hanya mencukupi kebutuhan selama dua hari.
Jika pasokan baru belum tersedia, pengrajin berpotensi kesulitan memenuhi kebutuhan bahan baku. Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Primkopti Kudus berencana mencari alternatif pasokan kedelai lokal dari Kabupaten Purwodadi yang dalam waktu dekat memasuki masa panen.
Sementara itu, Kepala Bidang Fasilitasi Perdagangan, Promosi dan Perlindungan Konsumen Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus, Sonhaji, membenarkan adanya kenaikan harga kedelai impor.
Berdasarkan pemantauan harga pasar tradisional pada Jumat (30/10/2026), kedelai impor dijual Rp11.500 per kg, sedangkan kedelai lokal mencapai Rp15.000 per kg.
Dinas Perdagangan Kudus berencana melakukan pengecekan lapangan untuk memastikan kondisi stok dan perkembangan pasokan kedelai di pasaran.









