BORNEONEWS, JAKARTA – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memastikan pemerintah hadir untuk membantu petani dan peternak dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi.
Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan pasokan jagung, pembangunan ekosistem usaha terintegrasi, serta pemberian dukungan nyata bagi pengembangan peternakan nasional.
“Perintah Presiden Prabowo Subianto agar pemerintah hadir di tengah petani dan peternak, mendengar persoalan mereka, dan menyelesaikannya secara nyata,” kata Amran saat dikonfirmasi di Jakarta, Sabtu (7/11/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan Amran dalam pertemuan bersama peternak ayam petelur pada kegiatan Sinergi BUMN Pangan Bersama Peternak Ayam Petelur Mikro. Kegiatan tersebut dilaksanakan melalui pembelian telur ayam dan penyaluran jagung Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di Desa Slemanan, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar, Jawa Timur.
Menurut Amran, setiap persoalan yang disampaikan peternak harus ditindaklanjuti dengan solusi konkret yang dapat dirasakan langsung di lapangan. Pemerintah, kata dia, tidak cukup hanya mendengar keluhan, tetapi juga harus memastikan penyelesaiannya.
Untuk mengatasi persoalan ketersediaan pakan, Kementerian Pertanian tengah membangun ekosistem jagung dari hulu hingga hilir. Dalam skema tersebut, petani jagung dan peternak akan dihubungkan dalam satu rantai usaha melalui pembentukan koperasi.
“Petani jagung dengan peternak satu kesatuan membentuk koperasi. Diberikan benih gratis dari pemerintah, setelah tumbuh juga pompa dengan alsintan, sesuai kemampuan APBN kita,” ujar Amran.
Setelah masa panen, jagung yang dihasilkan petani akan dibeli oleh koperasi peternak untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak. Apabila terjadi kelebihan produksi, Bulog akan menyerap dan menyimpannya sebagai cadangan yang dapat dimanfaatkan kembali ketika peternak membutuhkan pasokan.
“Sehingga tidak terjadi lagi ke depan nanti kekurangan pakan dari jagung,” tegasnya.
Selain membangun solusi jangka panjang, pemerintah juga berupaya mempercepat penanganan persoalan yang mendesak di lapangan. Amran sebelumnya telah meminta jajarannya mempercepat pelayanan dan penyaluran jagung SPHP bagi peternak yang membutuhkan.
Respons cepat tersebut dinilai penting karena ketersediaan dan harga pakan berpengaruh langsung terhadap keberlangsungan usaha peternakan. Peternak tidak hanya membutuhkan kebijakan, tetapi juga kepastian bahwa program pemerintah dapat berjalan secara konsisten.
Amran menegaskan pemerintah akan terus membuka ruang komunikasi dan menindaklanjuti berbagai persoalan yang disampaikan petani maupun peternak.
“Kalau ada petani berteriak dalam bentuk demo atau sendiri, tidak pernah kami menghindar. Pasti kami temui. Kami sebagai bapaknya harus bertanggung jawab di dunia. Jangan di akhirat nanti baru ditagih,” tegasnya.
Ia menambahkan, berbagai langkah pemerintah, mulai dari menjaga pasokan jagung SPHP, memperkuat penyerapan hasil panen petani, membangun ekosistem jagung dan peternakan, hingga memastikan persoalan peternak ditindaklanjuti, merupakan bagian dari pelaksanaan arahan Presiden Prabowo Subianto.
“Ini bukan hanya soal jagung. Ini soal bagaimana kita hadir dan menyelesaikan masalah petani dan peternak. Kita jalankan karena ini perintah Bapak Presiden,” tuturnya.
Pemerintah, lanjut Amran, memastikan arahan tersebut dapat dirasakan langsung hingga tingkat petani dan peternak, bukan sekadar menjadi kebijakan di atas kertas.
Sementara itu, Ketua Koperasi Berkah Telur Blitar, Yesi Yuni Asuti, mengatakan penyaluran jagung SPHP sangat membantu peternak, terutama di tengah kenaikan harga jagung di pasaran.
Menurut Yesi, harga jagung di luar program SPHP mengalami kenaikan dari sekitar Rp7.000 per kilogram menjadi Rp7.400 per kilogram, bahkan mencapai Rp7.800 hingga Rp7.900 per kilogram. Sementara itu, jagung SPHP dapat ditebus peternak melalui Bulog dengan harga sekitar Rp5.000 per kilogram.
Oleh karena itu, Yesi berharap penyaluran jagung SPHP dapat berjalan lebih lancar dan berkelanjutan sehingga peternak memperoleh kepastian pasokan pakan dengan harga yang lebih terjangkau.
Hal serupa disampaikan Ketua Koperasi Anjuk Ladang Makmur Kabupaten Nganjuk, Zainuddin. Ia menyebutkan koperasi yang dipimpinnya memiliki sekitar 75 anggota dengan populasi mencapai 250 ribu ekor ayam. Produksi telur rata-rata mencapai 15 ton per hari.
Menurut Zainuddin, tingginya harga jagung dan pakan pabrikan menjadi salah satu beban utama yang harus dihadapi peternak. Harga jagung di pasaran disebut telah mencapai Rp7.800 per kilogram, sedangkan jagung SPHP dapat diperoleh dengan harga sekitar Rp5.500 per kilogram.
“Dengan jagung SPHP hanya Rp5.500 per kilogram, ini sangat membantu kami selaku peternak,” ujarnya.
Selain berharap adanya kepastian pasokan jagung dengan harga terjangkau, Zainuddin juga meminta pemerintah menjaga kestabilan harga telur agar tetap seimbang dengan biaya produksi yang harus dikeluarkan peternak.
SUMBER: ANTARA









