BORNEONEWS, Banjarmasin -Pemandangan berbeda terlihat di sepanjang Sungai Martapura, tepatnya di kawasan Siring Menara Pandang, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pada Minggu, 8 November 2026.

Hamparan tanaman enceng gondok atau yang dikenal warga lokal sebagai ilung terlihat menyelimuti dan hanyut mengikuti arus permukaan sungai.

Keberadaan gulma air dalam jumlah besar ini cukup menyita perhatian masyarakat serta pengunjung kawasan Siring yang tengah beraktivitas di akhir pekan.

Rumpun tanaman hijau tersebut tampak mengalir deras membelah sungai, melintasi landmark kota seperti Menara Pandang.

Arus air membawa tumpukan eceng gondok tersebut dari arah hulu menuju bagian hilir Sungai Martapura. Fenomena ini rutin terjadi pada periode musim tertentu, terutama saat terjadi peningkatan curah hujan di wilayah hulu atau Pegunungan Meratus.

Bagi masyarakat setempat, fenomena hanyutnya eceng gondok dalam jumlah besar menandakan adanya perubahan kondisi air sungai. Aliran deras dari wilayah hulu mendorong air tawar dalam volume besar masuk dan mengalir menuju kawasan hilir kota.

Salah seorang warga Banjarmasin menanggapi fenomena ini dengan penuh harapan terkait kondisi kualitas air sungai saat ini.

"Ini tanda air tawar sudah turun dari gunung, mudah-mudahan air sungai lekas tidak asin lagi," ujar seorang warga setempat saat mengamati aliran sungai di kawasan Siring.

Sebelumnya, beberapa wilayah di Banjarmasin sempat mengalami peningkatan intrusi air laut yang menyebabkan rasa air sungai menjadi lebih payau atau asin. Kedatangan pasokan air tawar dari daerah hulu dinilai dapat menekan kadar garam tersebut secara perlahan.

Meski membawa pertanda positif bagi kualitas air, kehadiran eceng gondok yang melimpah juga membawa tantangan tersendiri bagi lalu lintas perairan. Tanpa penanganan yang tepat, tumpukan tanaman ini berpotensi mengganggu jalur transportasi sungai lokal. (SABRIANOOR/j)