BORNEONEWS, Palangka Raya – Kebutuhan pakan orangutan di Pulau Salat, Kalimantan Tengah, mencapai hampir 200 kilogram setiap hari. Besarnya kebutuhan tersebut menjadi perhatian sejumlah perkumpulan petani sawit swadaya yang turut memberikan dukungan bagi keberlanjutan program konservasi orangutan.

Dukungan itu disalurkan melalui kegiatan yang diselenggarakan Yayasan Fortasbi Indonesia bersama Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), dan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF).

Head of Secretariat Fortasbi Indonesia, Rukaiyah Rafik, mengatakan, setiap individu orangutan membutuhkan sekitar 5–7 kilogram pakan per hari. Dengan jumlah orangutan yang berada di Pulau Salat, kebutuhan pakan secara keseluruhan hampir mencapai 200 kilogram setiap harinya.

"Kondisi ini membutuhkan dukungan berkelanjutan. Karena itu, Fortasbi mendorong anggota perkumpulan petani swadaya yang mendapatkan kredit maupun insentif untuk turut menjalankan program lingkungan dan konservasi," kata Rukaiyah kepada Borneonews pada Minggu, 8 November 2026.

Salah satu bentuk kontribusi diwujudkan melalui dukungan dari Perkumpulan Petani Swadaya Jambi sebesar Rp15 juta, Perkumpulan Petani Swadaya Ketapang Rp15 juta, dan Perkumpulan Petani Mitra Harapan sebesar Rp30 juta. Total dukungan yang diserahkan mencapai Rp60 juta.

Rukaiyah menjelaskan, kontribusi tersebut merupakan bagian dari upaya mengembalikan manfaat ekonomi yang diterima petani agar juga memberikan dampak bagi lingkungan.

"Dengan demikian, pemberdayaan petani tidak hanya berorientasi pada peningkatan pendapatan, tetapi juga kepedulian terhadap kelestarian alam," tuturnya.

Melalui dukungan tersebut, Fortasbi berharap keterlibatan petani sawit swadaya dalam konservasi orangutan semakin kuat. Sebab, keberlanjutan industri sawit juga perlu berjalan seiring dengan tanggung jawab menjaga lingkungan dan keanekaragaman hayati. (TESTI PRISCILLA/j)