BORNEONEWS, Sampit - Kualitas udara di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai membaik setelah beberapa hari terakhir wilayah tersebut diguyur hujan. Selama dua hari berturut-turut, kualitas udara terpantau berada pada kategori sedang berdasarkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), sehingga kondisi udara relatif lebih baik dibandingkan saat kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Berdasarkan data pemantauan kualitas udara, pada 7 November 2026 pukul 06.00 WIB, ISPU di Kotim tercatat sebesar 77 dengan parameter pencemar kritis Particulate Matter 2.5 (PM2.5). Angka tersebut masuk kategori sedang dan masih dapat diterima bagi kesehatan manusia, hewan, maupun tumbuhan.

Pada waktu pengukuran tersebut, kondisi cuaca mencatat kelembapan udara mencapai 97 persen, tekanan udara 1.011 milibar, dan suhu 25 derajat Celsius.

Kondisi serupa kembali tercatat pada 8 November 2026 pukul 17.00 WIB. Nilai ISPU berada di angka 76 dengan parameter pencemar kritis PM2.5. Angka tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan pengukuran sehari sebelumnya.

Pada pengukuran tersebut, kelembapan udara tercatat sebesar 91,61 persen, tekanan udara 1.006 milibar, dan suhu mencapai 28 derajat Celsius. Dengan demikian, kualitas udara selama dua hari pemantauan berturut-turut masih berada dalam kategori sedang.

Membaiknya kualitas udara juga mulai dirasakan masyarakat secara langsung. Setelah berbulan-bulan menghadapi kabut asap akibat karhutla, warga kini mulai bisa menikmati aktivitas luar ruangan, termasuk pada pagi hari di kawasan Taman Kota Sampit.

Salah satu warga Sampit, Ahmad, mengaku bersyukur karena akhirnya dapat menikmati udara pagi tanpa gangguan asap. Kondisi tersebut dirasakan setelah hujan mengguyur sejumlah wilayah Kotim dalam beberapa hari terakhir.

"Alhamdulillah, Minggu pagi tadi setelah berbulan-bulan, akhirnya bisa menikmati udara pagi di Taman Kota Sampit tanpa asap. Betul-betul tidak ada asap tadi. Udara bersih setelah beberapa hari kemarin ada hujan," kata Ahmad, Minggu, 8 November 2026.

Ia berharap kondisi tersebut dapat terus bertahan dan tidak kembali diselimuti kabut asap. Meski hari ini belum turun hujan, Ahmad berharap tidak terjadi lagi kebakaran hutan dan lahan yang dapat menyebabkan pencemaran udara.

"Memang kalau hari ini belum hujan, mudah-mudahan tidak ada kebakaran lagi agar tidak terjadi kabut asap," ujarnya.

Sementara itu, sebelumnya Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kotim Gusti Mukafi menjelaskan bahwa nilai ISPU bersifat dinamis dan dapat berubah mengikuti kondisi lingkungan, terutama tingkat kepekatan asap akibat karhutla.

"ISPU tergantung kepekatan asapnya," tandas Gusti Mukafi. (DEWI PATMALASARI)