BORNEONEWS, Sampit - Jumlah titik panas atau hotspot di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai menurun setelah wilayah tersebut diguyur hujan selama beberapa hari terakhir. Berdasarkan data pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi H Asan Kotawaringin Timur, jumlah hotspot kini tersisa dua titik pada 8 November 2026.

Penurunan tersebut terlihat dari hasil pemantauan hotspot sejak 5 November 2026. Pada pukul 16.00 WIB, BMKG mencatat sebanyak 45 titik panas dengan tingkat kepercayaan menengah yang tersebar di sejumlah kecamatan di Kotim.

Sebaran terbanyak saat itu berada di Kecamatan Mentaya Hilir Utara dan Seranau, masing-masing 13 titik. Di Mentaya Hilir Utara, seluruh titik terpantau di Desa Bagendang Hilir, sedangkan di Seranau tersebar di Kelurahan Mentaya Seberang sebanyak tujuh titik dan Desa Batuah enam titik.

Sehari kemudian, tepatnya 6 November pukul 07.00 WIB, jumlah hotspot sempat meningkat menjadi 57 titik. Rinciannya terdiri dari satu titik dengan tingkat kepercayaan rendah, 55 titik menengah, dan satu titik dengan tingkat kepercayaan tinggi.

Pada pemantauan tersebut, Kecamatan Antang Kalang mencatat tujuh titik panas. Kecamatan Bukit Santuai mencatat empat titik, sedangkan Mentaya Hulu dan Tualan Hulu masing-masing mencatat empat dan tiga titik. Sementara itu, Mentaya Hilir Utara dan Seranau masih menjadi wilayah dengan sebaran terbanyak, masing-masing 13 titik.

Namun, perkembangan kondisi cuaca mulai menunjukkan perubahan pada pemantauan berikutnya. Pada 6 November pukul 16.00 WIB, BMKG tidak lagi mendeteksi adanya hotspot di wilayah Kotim atau tercatat nihil.

Kondisi nihil tersebut berlanjut hingga pemantauan 7 November 2026 pukul 07.00 WIB. Tidak terdeteksinya titik panas selama dua kali pemantauan berturut-turut menjadi indikasi penurunan aktivitas titik panas di wilayah tersebut setelah hujan mengguyur sejumlah kawasan.

Meski demikian, pemantauan pada 8 November pukul 07.00 WIB kembali mendeteksi dua titik panas. Keduanya berada di Kecamatan Mentaya Hilir Utara, tepatnya di Desa Bagendang Hilir, dengan tingkat kepercayaan menengah.

Penurunan tersebut menjadi perkembangan positif setelah Kotim sebelumnya menghadapi kondisi kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dalam beberapa bulan terakhir. Meski begitu, potensi munculnya titik panas baru tetap perlu diwaspadai, terutama di wilayah yang sebelumnya memiliki sebaran hotspot cukup tinggi. (DEWI PATMALASARI)