KOTAWARINGIN TIMUR – BORNEONEWS, Sampit - Hujan yang mulai mengguyur Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) belum sepenuhnya menghilangkan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sebanyak 82 titik panas atau hotspot masih terdeteksi, sehingga upaya penanganan dan pemantauan di lapangan tetap harus dilakukan.
Anggota Komisi II DPR RI Daerah Pemilihan Kalimantan Tengah, Iwan Kurniawan, mengatakan turunnya hujan dalam beberapa hari terakhir patut disyukuri. Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta membuat seluruh titik api padam, terutama pada kawasan lahan yang masih menyimpan bara.
"Alhamdulillah beberapa hari ini hujan sudah, tapi sekali lagi hujan ini pun sebenarnya tidak langsung melenyapkan titik api. Ternyata masih ada 82 titik hotspot yang kita berharap ini juga tidak menjadi membesar," kata Iwan saat mengunjungi Kantor BPBD Kotim, Sabtu, 31 Oktober 2026.
Ia berharap hujan yang kembali turun dapat membantu mengurangi bahkan menghilangkan titik panas yang masih terpantau. Meski demikian, upaya pemadaman dan penanganan karhutla tidak boleh dihentikan hanya karena kondisi cuaca mulai membaik.
Menurut Iwan, penanganan karhutla membutuhkan kerja sama seluruh pihak. Pemerintah daerah, unsur terkait, perusahaan, hingga masyarakat perlu saling mendukung agar titik api yang tersisa tidak berkembang menjadi kebakaran lebih luas.
Dalam kunjungannya, Iwan juga memberikan apresiasi kepada petugas yang terus bekerja di lapangan. Mereka harus bersiaga siang dan malam serta meninggalkan keluarga demi menjalankan tugas penanganan karhutla di wilayah Kotim.
Ia menilai dedikasi para petugas tersebut perlu mendapat apresiasi karena penanggulangan karhutla membutuhkan kesiapan dan pengorbanan yang tidak sedikit. Apalagi kondisi kemarau panjang sebelumnya membuat penanganan kebakaran di sejumlah wilayah menjadi tantangan tersendiri.
Selain ancaman karhutla, Iwan mengingatkan pemerintah daerah agar mulai mengantisipasi potensi bencana lain setelah memasuki musim hujan. Berdasarkan laporan BPBD Kotim, terdapat sejumlah wilayah yang rawan mengalami banjir ketika intensitas hujan meningkat.
Karena itu, perubahan musim dari kemarau ke penghujan perlu diikuti dengan kesiapsiagaan menghadapi dua ancaman sekaligus, yakni sisa kebakaran lahan dan potensi banjir. Pemantauan wilayah rawan serta kesiapan personel dan peralatan menjadi hal penting agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.
"Sekali lagi karhutla ini memang satu sisi bencana karena kemarau yang panjang, tapi setelah kemarau ini akan masuk musim hujan. laporan daripada BPBD Kotim, kalau sudah musim hujan, ada beberapa daerah juga di Kotim ini yang rawan dengan bencana banjir. Jadi ini semua juga harus kita waspadai," pungkasnya.
Sementara itu, Kepala BPBD Kotim Imam Subekti mengatakan bantuan presiden (banpres) yang diterima dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan posko dan pengadaan sejumlah peralatan yang diperlukan dalam penanganan karhutla.
"Bantuan tersebut kita gunakan untuk operasional di posko dan beberapa peralatan yang kita perlukan. Alhamdulillah ini sudah berjalan. Mudah-mudahan sampai 15 November kita sudah bisa mengakhiri penanganan karhutla dan nanti kita segera bisa normal lagi dan melakukan aktivitas seperti biasa," ujarnya. (DEWI PATMALASARI/H)









