BORNEONEWS, Kuala Kapuas – Buah lahung menjadi salah satu kekayaan buah lokal Kalimantan yang belum banyak dikenal masyarakat. Meski tumbuh alami di sejumlah kawasan hutan, buah yang masih berkerabat dengan durian ini ternyata tidak banyak orang yang pernah mencicipinya, termasuk warga Kuala Kapuas, Kabupaten Kapuas.

Buah ini biasanya muncul bersamaan dengan musim buah-buahan lainnya. Daerah hulu Kalimantan menjadi salah satu wilayah tempat pohon lahung tumbuh secara alami. Namun, keberadaannya kini mulai jarang ditemukan.

Santi, warga Kapuas, mengatakan buah lahung umumnya berasal dari kawasan hulu. Menurutnya, keberadaan buah ini semakin sulit dijumpai seiring berkurangnya kawasan hutan, termasuk akibat kebakaran.

"Buah ini biasanya barengan dengan musim buah lainnya dan banyak tumbuh di daerah hulu, tapi mulai jarang karena hutan banyak terbakar. Tumbuhnya liar," ungkap Santi.

Di Kuala Kapuas sendiri, mencari buah lahung bukan perkara mudah. Buah ini tidak selalu tersedia di pasar atau lapak pedagang buah. Kemunculannya sangat bergantung pada musim dan pasokan dari daerah asalnya.

Roni, warga Kapuas lainnya, mengatakan buah lahung biasanya dijual oleh pedagang keliling yang membawa hasil buah dari wilayah hulu. Kehadirannya kerap bersamaan dengan sejumlah buah lokal lain, seperti durian dan pampaken.

"Biasanya ada orang jualan keliling kalau musim buah, dari hulu, gabung sama durian, pampaken juga," ungkap Roni.

Untuk harganya, buah lahung tidak memiliki patokan yang pasti. Ketersediaan yang terbatas dan bergantung pada musim membuat harganya tidak selalu sama. Bahkan, tidak setiap musim masyarakat bisa dengan mudah menemukannya.

Minimnya peredaran buah ini juga terlihat ketika lahung ditanyakan di komunitas relawan. Tidak banyak warga yang mengaku pernah mencicipinya. Hal tersebut menunjukkan bahwa meskipun berasal dari Kalimantan, lahung belum tentu akrab bagi masyarakat di daerahnya sendiri.

Kondisi ini membuat lahung menjadi salah satu buah lokal yang keberadaannya menarik untuk dikenali kembali. Selain sebagai bagian dari kekayaan pangan tradisional, buah yang tumbuh liar di kawasan hutan ini juga menyimpan cerita tentang keanekaragaman hayati Kalimantan.

Di tengah semakin sulitnya menemukan lahung, keberadaan pohon-pohon penghasil buah lokal di habitat alaminya menjadi hal yang patut diperhatikan. Sebab, ketika hutan tempat tumbuhnya semakin berkurang, kesempatan masyarakat untuk mengenal dan menikmati buah khas tersebut juga bisa semakin terbatas. (SABRIANOOR/H)