BORNEONEWS, Sampit - Pergerakan penumpang di Bandara H Asan Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), mengalami penurunan tajam sebesar 48,70 persen selama September 2026. Penurunan ini terjadi di tengah gangguan penerbangan akibat kabut asap yang menyebabkan jarak pandang di sekitar bandara menurun hingga memicu puluhan pembatalan penerbangan.

Berdasarkan Berita Resmi Statistik Nomor 71/11/62/Th.XX yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Tengah pada 2 November 2026, jumlah penumpang di Bandara H Asan Sampit turun dari 14.796 orang pada Agustus menjadi 7.591 orang pada September 2026.

Penurunan tersebut menempatkan Bandara H Asan Sampit sebagai salah satu bandara dengan penurunan jumlah penumpang cukup besar di Kalimantan Tengah. Secara keseluruhan, seluruh bandara di provinsi ini mengalami penurunan pergerakan penumpang selama periode yang sama.

Penurunan paling besar terjadi di Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya yang mencapai 55,64 persen, dari sebelumnya 71.838 penumpang menjadi 31.869 orang. Sementara Bandara Iskandar Pangkalan Bun turun 21,39 persen, dari 45.889 menjadi 36.075 penumpang.

Adapun bandara lainnya mengalami penurunan paling ekstrem hingga 98,45 persen, dari 2.830 penumpang pada Agustus menjadi hanya 44 orang pada September 2026.

Meski mengalami penurunan, Bandara H Asan Sampit menyumbang 10,04 persen dari total pergerakan penumpang angkutan udara di Kalimantan Tengah selama September. Kontribusi terbesar berasal dari Bandara Iskandar Pangkalan Bun sebesar 47,73 persen, disusul Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya sebesar 42,17 persen dan bandara lainnya 0,06 persen.

Gangguan operasional penerbangan di Bandara H Asan Sampit juga terlihat dari data Kantor Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas II H Asan Sampit selama 14-30 September 2026. Dalam periode tersebut, tercatat 52 jadwal penerbangan dengan tingkat pembatalan yang cukup tinggi.

Dari total jadwal tersebut, hanya 8 penerbangan atau 15,4 persen yang beroperasi sesuai jadwal. Sementara 6 penerbangan atau 11,5 persen mengalami keterlambatan dan sebanyak 38 penerbangan atau 73,1 persen dibatalkan.

Seluruh keterlambatan dan pembatalan penerbangan tersebut dipicu rendahnya jarak pandang di sekitar Bandara H Asan Sampit akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi ini mengganggu aktivitas penerbangan sehingga sejumlah jadwal tidak dapat dilaksanakan sesuai rencana. (DEWI PATMALASARI)