BORNEONEWS, Sampit - Maskapai mulai menjadwalkan kembali penerbangan di Bandara H Asan Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), setelah lebih dari satu bulan lumpuh akibat jarak pandang rendah karena kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Berdasarkan pengumuman Lion Air Group Cabang Sampit, Wings Air dijadwalkan kembali beroperasi pada 30 Oktober 2026, disusul Super Air Jet pada 1 November 2026. Sementara itu, Nam Air merencanakan penerbangan kembali pada 4 November 2026.

Wings Air akan melayani rute Surabaya-Sampit dan Sampit-Surabaya menggunakan pesawat ATR. Penerbangan IW1805 dari berangkat Surabaya pukul 11.45 WIB dan dijadwalkan tiba di Sampit pukul 13.25 WIB. Adapun nomor penerbangan IW1804 dari Sampit menuju Surabaya dijadwalkan berangkat pukul 13.50 WIB dan tiba pukul 15.30 WIB.

Selanjutnya, Super Air Jet akan kembali melayani rute Jakarta-Sampit dan Sampit-Jakarta mulai 1 November 2026 menggunakan pesawat Airbus. Pesawat dengan nomor penerbangan IU350 dari Jakarta dijadwalkan berangkat pukul 12.35 WIB dan tiba di Sampit pukul 14.10 WIB. Selanjutnya dari Sampit menuju Jakarta dijadwalkan berangkat pukul 14.50 WIB dan tiba pukul 16.30 WIB.

Sementara itu, Nam Air dijadwalkan kembali beroperasi pada 4 November 2026 dengan melayani rute Sampit-Surabaya.

Bupati Kotim Halikinnor mengatakan, pemerintah daerah terus berupaya memadamkan kebakaran lahan untuk mengurangi kabut asap yang mengganggu operasional penerbangan di Bandara H Asan Sampit.

Menurutnya, meskipun hujan mulai turun dan sejumlah titik api berhasil dipadamkan, upaya pendinginan tetap diperlukan untuk mencegah kebakaran kembali muncul serta mengurangi asap yang masih tersisa.

"Kita berupaya semaksimal mungkin menghilangkan asap. Titik-titik api yang sudah padam masih menyisakan sedikit asap, sehingga kita lakukan pendinginan dan pembasahan supaya tidak muncul lagi. Kalau asap tidak ada, bandara otomatis bisa beroperasi normal," kata Halikinnor, Kamis, 29 Oktober 2026.

Ia berharap penanganan karhutla di wilayah Kotim dapat segera tuntas sehingga aktivitas penerbangan kembali berjalan lancar dan masyarakat dapat menggunakan transportasi udara tanpa terganggu kabut asap.

Sebelumnya, Kepala BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Kotim Mulyono Leo Nardo menyampaikan, jarak pandang di Bandara H Asan Sampit mulai membaik setelah hujan mengguyur wilayah tersebut selama dua hari terakhir.

"Sekarang visibility posisinya 3 kilometer. Karena di Seranau itu masih ada asap, jadi mengganggu visibility," kata Mulyono Leo Nardo.

Ia menjelaskan, jarak pandang sekitar 3 kilometer masih memungkinkan pesawat komersial melakukan penerbangan. Namun, kondisi tersebut belum memenuhi kebutuhan operasional helikopter water bombing untuk kegiatan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Menurut Mulyono, helikopter yang membawa bucket atau wadah air untuk pemadaman membutuhkan jarak pandang minimal 4,5 kilometer. Persyaratan tersebut berkaitan dengan keselamatan saat membawa beban dan bermanuver di udara, terutama untuk menghindari rumah, menara, bangunan, maupun pepohonan.

"Kalau helikopter itu minimal 4,5 kilometer baru bisa terbang. Karena dia membawa bucket, jadi harus hati-hati. Kalau pesawat, 3 kilometer itu sudah bisa terbang," ujarnya.

Mulyono menambahkan, jarak pandang menjadi salah satu faktor penting saat pesawat melakukan pendaratan. Sementara itu, setelah pesawat berada di darat, kondisi operasional juga dipengaruhi faktor lain, seperti suhu udara dan tekanan udara yang berkaitan dengan daya angkat pesawat.

Ia berharap kebakaran di wilayah seberang Sungai Mentaya, khususnya Seranau, segera tertangani sehingga asap tidak lagi mengganggu jarak pandang di Bandara H Asan Sampit.

"Mudah-mudahan karhutlanya sudah selesai, yang di seberang tertangani, jadi visibility kita tidak terganggu lagi. Karena dari Seranau itu asapnya ke Bandara H Asan Sampit," tandasnya. (DEWI PATMALASARI/H)