BORNEONEWS, Sampit - Sejumlah sekolah di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai kembali melaksanakan pembelajaran tatap muka setelah hujan turun selama dua hari terakhir dan kualitas udara berangsur membaik. Meski demikian, kegiatan belajar mengajar masih menyesuaikan kondisi lingkungan serta Surat Edaran (SE) Bupati Kotim terkait adaptasi pembelajaran selama musim kemarau.

"Menyesuaikan kondisi cuaca saat ini, sudah mulai beberapa sekolah melakukan pembelajaran tatap muka. Hanya saja, tetap mengacu pada surat edaran yang telah dikeluarkan kepala daerah," kata Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kotim Yolanda Lonita Fenisia, Kamis, 29 Oktober 2026.

Yolanda menjelaskan, sekolah yang kembali menggelar pembelajaran tatap muka tetap diminta menyesuaikan jam belajar. Siswa masuk lebih siang dan pulang lebih awal untuk mengurangi paparan kabut asap yang sebelumnya menyelimuti wilayah Kotim akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Dalam pelaksanaannya, siswa diarahkan masuk sekitar pukul 08.00 WIB dan pulang sekitar pukul 12.00 WIB, dengan penyesuaian lebih lanjut sesuai kondisi masing-masing sekolah dan ketentuan dalam surat edaran.

Namun, belum seluruh sekolah kembali melaksanakan pembelajaran di kelas. Sebagian satuan pendidikan masih menerapkan belajar dari rumah (BDR) atau pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Keputusan untuk melaksanakan BDR atau tatap muka diserahkan kepada kepala satuan pendidikan dengan mempertimbangkan kondisi di wilayah masing-masing.

"Kalau kondisi memang sangat memungkinkan untuk melakukan pembelajaran tatap muka, kami kembalikan kepada sekolah untuk melaksanakan proses pembelajaran secara langsung," ujarnya.

Disdik Kotim belum memiliki data pasti mengenai jumlah sekolah yang telah kembali menggelar pembelajaran tatap muka. Data pada dasbor pelaporan dinilai belum sepenuhnya mencerminkan kondisi terbaru karena pembaruan informasi membutuhkan waktu.

Yolanda menyebutkan, dalam dasbor tersebut masih tercatat sekitar 400 satuan pendidikan yang melaksanakan pembelajaran dari rumah. Namun, berdasarkan kondisi di lapangan, sebagian sekolah sebenarnya sudah kembali melaksanakan pembelajaran tatap muka.

"Dalam dasbor memang masih ada sekitar 400 satuan pendidikan yang tercatat melakukan pembelajaran dari rumah. Namun, pada pelaksanaannya ada juga yang sudah melakukan pembelajaran tatap muka. Sampai sekarang belum ada laporan berapa satuan pendidikan yang hari ini sudah kembali tatap muka," katanya.

Diketahui, penyesuaian kegiatan pembelajaran tersebut mengacu pada Surat Edaran Bupati Kotim Nomor 400.3.1/1182.1/Disdik-1/2026 tertanggal 23 Agustus 2026 tentang Adaptasi Kegiatan Pembelajaran di Musim Kemarau Tahun 2026.

Dalam ketentuan itu, satuan pendidikan dapat menerapkan BDR atau PJJ apabila kondisi lingkungan dinilai tidak mendukung pembelajaran tatap muka. Aturan tersebut berlaku sementara hingga kualitas udara kembali dalam kondisi baik atau sehat.

Pemantauan kualitas udara dapat dilakukan melalui aplikasi ISPUnet maupun laman Kementerian Lingkungan Hidup. Keputusan penerapan BDR atau PJJ juga mempertimbangkan kondisi wilayah sekolah masing-masing dan status tanggap darurat karhutla di Kotim.

Bagi sekolah yang tetap melaksanakan tatap muka, jam belajar disesuaikan berdasarkan jenjang pendidikan dan sistem hari sekolah.

Untuk sekolah dengan sistem lima hari, PAUD masuk pukul 08.00 WIB dan pulang pukul 10.00 WIB. Sementara itu, SD dijadwalkan masuk pukul 07.30 WIB hingga 13.00 WIB, sedangkan SMP pukul 07.30 WIB hingga 13.40 WIB.

Khusus Jumat, PAUD tetap masuk pukul 08.00 WIB dan pulang pukul 10.00 WIB. Adapun SD dan SMP masuk pukul 07.30 WIB hingga 10.00 WIB.

Untuk sekolah dengan sistem enam hari, PAUD masuk pukul 08.00 WIB hingga 09.30 WIB. SD dijadwalkan belajar pukul 07.30 WIB hingga 12.00 WIB, sedangkan SMP pukul 07.30 WIB hingga 13.00 WIB.

Pada Jumat, PAUD masuk pukul 08.00 WIB dan pulang pukul 09.30 WIB. Sementara SD dan SMP mengikuti pembelajaran pukul 07.30 WIB hingga 10.00 WIB.

Ketentuan penyesuaian jam belajar tersebut berlaku selama status tanggap darurat bencana karhutla dan kekeringan di Kotim. (DEWI PATMALASARI)