BORNEONEWS, Palangka Raya – Yayasan Fortasbi Indonesia mendorong buyer atau pembeli produk sawit untuk tidak hanya memberikan insentif finansial kepada petani swadaya, tetapi juga terlibat langsung dalam program pemberdayaan masyarakat dan pelestarian lingkungan.

Head of Secretariat Fortasbi Indonesia, Rukaiyah Rafik, mengatakan, pemberian insentif seharusnya menjadi awal dari hubungan yang lebih luas antara buyer dan petani. Keterlibatan buyer diperlukan agar manfaat dari praktik sawit berkelanjutan dapat dirasakan hingga ke tingkat masyarakat.

“Buyer yang memberikan insentif kepada petani swadaya tidak hanya merasa memberikan uangnya kepada petani, tetapi juga terlibat dalam program-program pemberdayaan,” kata Rukaiyah saat kegiatan Fortasbi di Pulau Salat pada Jumat lalu.

Ia menjelaskan, buyer dapat menjalankan program pemberdayaan secara mandiri atau berkolaborasi dengan pihak lain. Kerja sama tersebut dapat melibatkan perusahaan, NGO, maupun lembaga lainnya.

Rukaiyah mencontohkan, anggota Fortasbi yang mendapatkan kredit dan insentif diwajibkan memiliki program lingkungan, konservasi, sosial, dan anak. Salah satu bentuk implementasinya dilakukan APKSM dan BUMDes Berkah Jaya melalui dukungan terhadap konservasi orangutan di Pulau Salat.

Dalam kegiatan yang melibatkan buyer dari Jepang dan Belgia tersebut, sejumlah perkumpulan petani swadaya juga memberikan dukungan total Rp60 juta. Dana tersebut berasal dari perkumpulan petani swadaya Jambi Rp15 juta, Ketapang Rp15 juta, dan Mitra Harapan Rp30 juta.

"Kredit dan insentif yang diterima petani swadaya pada dasarnya dapat dikembalikan lagi menjadi berbagai program yang memberikan dampak bagi masyarakat dan lingkungan," tambah Rukaiyah.

Kegiatan yang diselenggarakan bersama Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), dan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) tersebut menjadi salah satu contoh kolaborasi dalam mendorong praktik sawit berkelanjutan.

Fortasbi berharap pola keterlibatan seperti ini semakin berkembang sehingga hubungan antara buyer dan petani tidak hanya berorientasi pada transaksi bisnis, tetapi juga menghasilkan manfaat sosial dan lingkungan yang berkelanjutan.(TESTI PRISCILLA)