BORNEONEWS, Pulang Pisau – Upaya konservasi orangutan di Pulau Salat, Kalimantan Tengah, melibatkan berbagai pihak, mulai dari perusahaan perkebunan, lembaga konservasi, hingga perkumpulan petani sawit swadaya.

Kawasan seluas 2.000 hektare yang dikelola PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk atau SSMS bersama Borneo Orangutan Survival Foundation atau BOSF tersebut secara khusus diperuntukkan bagi konservasi orangutan dan tidak boleh digunakan untuk penanaman kelapa sawit.

Dept. Head Sustainability PT SSMS Tbk, Andri Najiburaahman, menjelaskan, kawasan Pulau Salat terdiri dari Pulau Badak Besar dan Pulau Badak Kecil. Perusahaan telah memperoleh izin untuk mengelola kawasan tersebut dengan ketentuan pemanfaatannya khusus untuk kepentingan konservasi.

"Pulau Salat ini terdiri dari Pulau Badak Besar dan Badak Kecil, dengan luas sekitar 2.000 hektare. Perusahaan memperoleh izin untuk menguasai kawasan ini, tetapi tidak boleh digunakan untuk menanam kelapa sawit. Kawasan ini diperuntukkan bagi konservasi," jelas Andri pada Jumat, 6 November 2026.

Menurutnya, konsep konservasi di Pulau Salat tidak sekadar menyediakan tempat tinggal bagi orangutan. Mereka juga diajari berbagai kemampuan agar nantinya mampu bertahan hidup di habitatnya. Melalui kerja sama dengan BOSF, kawasan tersebut menjadi bagian dari upaya mendukung proses konservasi orangutan.

Dukungan terhadap konservasi Pulau Salat juga datang dari perkumpulan petani sawit swadaya yang tergabung dalam Yayasan Fortasbi Indonesia.

Head of Secretariat Fortasbi Indonesia, Rukaiyah Rafik, mengatakan, anggota Fortasbi yang mendapatkan kredit dan insentif diwajibkan memiliki program lingkungan, konservasi, sosial, dan anak.

Ia menjelaskan, pemberian insentif kepada petani swadaya seharusnya tidak hanya dipandang sebagai penyaluran uang dari buyer.

Buyer juga diharapkan terlibat dalam berbagai program pemberdayaan, baik melalui kegiatan mandiri maupun berkolaborasi dengan perusahaan, NGO, dan pihak lainnya.

"Buyer yang memberikan insentif kepada petani swadaya tidak hanya merasa memberikan uangnya kepada petani, tetapi juga terlibat dalam program-program pemberdayaan," ungkap Rukaiyah.

Salah satu bentuk implementasinya dilakukan APKSM dan BUMDes Berkah Jaya melalui dukungan terhadap konservasi di Pulau Salat.

Dalam kegiatan yang diselenggarakan Fortasbi bersama Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), SSMS, dan BOSF pada Jumat, 6 November 2026, tiga perkumpulan petani swadaya turut menyerahkan dukungan dengan total Rp60 juta. Rinciannya perkumpulan petani swadaya Jambi Rp15 juta, Ketapang Rp15 juta, dan Mitra Harapan Rp30 juta.

Rukaiyah menambahkan, kontribusi tersebut menjadi contoh bahwa manfaat ekonomi yang diterima petani dapat dikembalikan lagi menjadi program yang memberikan dampak bagi lingkungan. Terlebih, kebutuhan pakan orangutan di Pulau Salat mencapai hampir 200 kilogram per hari, dengan kebutuhan sekitar 5–7 kilogram untuk setiap individu orangutan.

Kunjungan tersebut juga melibatkan buyer dari Jepang dan Belgia. Melalui kolaborasi ini, Fortasbi berharap keterlibatan buyer dalam pemberdayaan petani semakin berkembang, sementara pengelolaan kawasan konservasi oleh SSMS bersama BOSF terus mendukung perlindungan orangutan di Kalimantan Tengah. (TESTI PRISCILLA)