BORNEONEWS, Pulang Pisau – Yayasan Fortasbi Indonesia bersama sejumlah mitra membawa buyer dari Jepang dan Belgia mengunjungi Pulau Salat, Kalimantan Tengah pada Jumat, 6 November 2026. Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan langsung program pemberdayaan petani sawit swadaya yang terintegrasi dengan kegiatan lingkungan dan konservasi orangutan.
Dalam kegiatan tersebut, Fortasbi bersama Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), dan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) turut memberikan dukungan bagi keberlanjutan program konservasi di Pulau Salat.
Head of Secretariat Fortasbi Indonesia, Rukaiyah Rafik, mengatakan, pihaknya mewajibkan anggota Fortasbi yang mendapatkan fasilitas kredit maupun insentif untuk memiliki program lingkungan, konservasi, sosial, dan anak. Hal itu menjadi bagian dari tanggung jawab pemberdayaan yang harus berjalan seiring dengan dukungan ekonomi kepada petani.
Menurutnya, buyer yang memberikan insentif kepada petani swadaya tidak hanya sebatas menyalurkan bantuan dana, tetapi juga diharapkan terlibat dalam program-program pemberdayaan masyarakat. Keterlibatan tersebut dapat dilakukan melalui program mandiri maupun berkolaborasi dengan pihak lain, seperti perusahaan, organisasi nonpemerintah (NGO), dan lembaga lainnya.
“Buyer yang memberikan insentif kepada petani swadaya tidak hanya merasa memberikan uangnya kepada petani, tetapi juga terlibat dalam program-program pemberdayaan. Bisa melakukan program sendiri atau berkolaborasi dengan pihak lain,” jelas Rukaiyah.
Ia mencontohkan, APKSM dan BUMDes Berkah Jaya yang merupakan anggota Fortasbi turut memberikan kontribusi untuk mendukung konservasi orangutan di Pulau Salat. Dukungan tersebut menjadi wujud pemanfaatan kembali manfaat ekonomi yang diterima petani agar memberikan dampak lebih luas bagi lingkungan dan masyarakat.
Rukaiyah menjelaskan, kebutuhan pakan orangutan di Pulau Salat cukup besar. Setiap individu orangutan membutuhkan sekitar 5–7 kilogram pakan per hari. Dengan jumlah orangutan yang ada di lokasi tersebut, kebutuhan pakan secara keseluruhan hampir mencapai 200 kilogram setiap hari.
“Jadi, kredit yang masuk ke petani swadaya sebetulnya dikembalikan lagi menjadi program. Salah satunya seperti yang dilakukan APKSM dan BUMDes Berkah Jaya dengan memberikan sumbangan untuk Pulau Salat,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, dukungan diserahkan oleh sejumlah perkumpulan petani swadaya. Perkumpulan Petani Swadaya Jambi memberikan Rp15 juta, Perkumpulan Petani Swadaya Ketapang Rp15 juta, serta Perkumpulan Petani Mitra Harapan sebesar Rp30 juta.
Melalui kegiatan ini, Fortasbi berharap buyer internasional dapat melihat secara langsung bahwa insentif bagi petani sawit swadaya tidak hanya berdampak pada peningkatan kesejahteraan petani, tetapi juga dapat mendukung program konservasi, perlindungan lingkungan, serta pemberdayaan sosial secara berkelanjutan.(TESTI PRISCILLA)









