BORNEONEWS, Pulang Pisau – PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk atau SSMS mendorong perusahaan perkebunan kelapa sawit lainnya, khususnya yang telah mengantongi sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil atau RSPO, untuk turut menjalankan program konservasi satwa yang terancam punah.

Direktur Sustainability SSMS, Henky Satrio Wibowo, mengatakan, kunjungan buyer dari Jepang dan Belgia bersama petani sawit swadaya ke fasilitas konservasi Pulau Salat, Kalimantan Tengah, menjadi kegiatan yang produktif.

"Melalui kunjungan ini para pihak dapat melihat langsung upaya konservasi orangutan yang dijalankan perusahaan," kata Henky.

Henky menyampaikan apresiasi kepada para petani dan buyer yang telah meluangkan waktu untuk melihat fasilitas konservasi yang dikelola SSMS bekerja sama dengan Borneo Orangutan Survival Foundation atau BOSF.

Menurutnya, salah satu tujuan kegiatan tersebut adalah memperkenalkan bahwa perusahaan perkebunan kelapa sawit juga memiliki program konservasi, termasuk mendukung proses rehabilitasi dan pelepasliaran orangutan.

"Kami ingin menginformasikan bahwa perusahaan sawit ini memiliki suatu program konservasi para pelepasliaran orangutan yang bekerja sama dengan BOSF," ujarnya.

Henky berharap program tersebut dapat dikampanyekan lebih luas sehingga semakin banyak perusahaan perkebunan sawit yang tergerak melakukan kegiatan serupa. Menurutnya, upaya konservasi tidak harus terbatas pada orangutan, tetapi juga dapat menyasar satwa lain yang masuk kategori terancam punah.

Ia mencontohkan sejumlah satwa yang dapat menjadi perhatian dalam program konservasi, seperti badak, harimau, maupun kelompok primata lainnya yang masuk dalam spesies terancam punah.

"Kami akan mencoba mengkampanyekan ini agar perusahaan-perusahaan sawit, terutama yang RSPO certified, melakukan hal yang serupa, entah itu kepada badak, harimau, atau primata-primata yang memang masuk ke dalam spesies yang in danger," jelasnya.

Melalui fasilitas konservasi Pulau Salat yang terdiri dari Pulau Badak Besar dan Pulau Badak Kecil dengan luas sekitar 2.000 hektare, SSMS berharap upaya perlindungan orangutan dapat terus berjalan. Kawasan tersebut dikhususkan untuk konservasi dan tidak diperbolehkan digunakan untuk penanaman kelapa sawit. (TESTI PRISCILLA/Y)