BORNEONEWS, Palangka Raya – Yayasan Fortasbi Indonesia membawa buyer dari Jepang dan Belgia mengunjungi Pulau Salat, Kalimantan Tengah, Jumat lalu.
Kunjungan tersebut menjadi kesempatan memperkenalkan secara langsung keterkaitan antara praktik sawit berkelanjutan, pemberdayaan petani swadaya, dan upaya konservasi orangutan.
Kegiatan ini diselenggarakan Fortasbi Indonesia bersama Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), dan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF).
Head of Secretariat Fortasbi Indonesia, Rukaiyah Rafik, mengatakan, kehadiran buyer internasional diharapkan tidak hanya memberikan pemahaman mengenai praktik keberlanjutan yang dijalankan petani, tetapi juga mendorong keterlibatan langsung dalam berbagai program pemberdayaan.
"Buyer yang memberikan insentif kepada petani swadaya seharusnya tidak hanya memandang insentif sebagai penyaluran dana. Lebih dari itu, buyer juga diharapkan ikut terlibat dalam program yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan," kata Rukaiyah kepada Borneonews pada Minggu, 8 November 2026.
Rukaiyah menjelaskan, keterlibatan tersebut dapat dilakukan melalui program yang dijalankan secara mandiri oleh buyer maupun melalui kolaborasi dengan perusahaan, organisasi nonpemerintah (NGO), dan pihak lainnya.
Dalam kesempatan itu, Fortasbi juga memperlihatkan bentuk kontribusi petani sawit swadaya terhadap konservasi orangutan di Pulau Salat. Sejumlah perkumpulan petani memberikan dukungan dengan total Rp60 juta untuk membantu program konservasi.
"Langkah ini menjadi contoh bahwa manfaat ekonomi yang diterima petani dapat dikembangkan kembali menjadi kegiatan yang berdampak lebih luas," katanya.
Melalui kunjungan buyer dari Jepang dan Belgia ini, Fortasbi mendorong hubungan antara petani dan pembeli tidak hanya terbatas pada aktivitas perdagangan, tetapi juga dibangun melalui komitmen bersama terhadap keberlanjutan lingkungan dan sosial.(TESTI PRISCILLA)









